Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di tengah perdebatan sengit mengenai kebijakan Iran, saat negaranya terpinggirkan dari meja perundingan. (Foto: nytimes.com)
YERUSALEM – Dulu menjadi mitra strategis dan “ko-pilot” Amerika Serikat (AS) dalam menghadapi ancaman nuklir Iran, Israel di bawah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu kini mendapati dirinya terpinggirkan dari meja perundingan perdamaian. Situasi ini menandai kemunduran diplomatik yang memalukan bagi Netanyahu dan menimbulkan risiko signifikan bagi keamanan nasional Israel.
Pergeseran peran dari pemain kunci menjadi ‘penumpang’ belaka ini terjadi di tengah upaya global, terutama yang dipimpin oleh AS, untuk menghidupkan kembali diplomasi dengan Teheran, khususnya terkait program nuklirnya. Setelah bertahun-tahun berkolaborasi erat dengan pemerintahan Donald Trump untuk menerapkan tekanan maksimum terhadap Iran, Israel kini sebagian besar tidak diikutsertakan dalam dialog krusial ini. Ini menimbulkan kekhawatiran besar di Yerusalem mengenai bagaimana kepentingan keamanan intinya akan terwakili.
Dari Ko-Pilot Menjadi Penumpang: Pergeseran Paradigma
Selama era pemerintahan Trump, hubungan AS-Israel berada pada puncaknya dalam hal kebijakan Iran. Netanyahu dan Trump secara vokal menentang kesepakatan nuklir Iran (JCPOA) tahun 2015 dan bekerja sama untuk menarik AS keluar dari perjanjian tersebut, serta menerapkan sanksi ekonomi yang berat. Israel berperan aktif dalam membentuk narasi dan strategi AS terhadap Iran, seringkali menjadi suara utama yang mendorong tindakan agresif dan pencegahan.
Namun, dengan masuknya pemerintahan Joe Biden, pendekatan AS terhadap Iran bergeser secara signifikan. Biden menyatakan niatnya untuk kembali ke jalur diplomasi dan potensi menghidupkan kembali JCPOA, yang oleh Israel dianggap cacat fatal. Proses ini melibatkan negosiasi multilateral, seringkali dengan peserta lain dari P5+1 (lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB ditambah Jerman) dan Iran, namun tanpa kehadiran langsung perwakilan Israel. Hal ini secara efektif mereduksi posisi Israel dari mitra pembuat kebijakan menjadi pengamat dari luar.
Implikasi Politik Bagi Benjamin Netanyahu
Bagi Netanyahu, yang telah lama memposisikan dirinya sebagai pembela utama keamanan Israel dan seorang diplomat ulung di panggung dunia, marginalisasi ini merupakan pukulan telak. Ini merusak citranya sebagai pemimpin yang mampu menjaga Israel tetap berada di garis depan keputusan strategis global.
- Pukulan Reputasi: Ketiadaan Israel di meja perundingan dapat diinterpretasikan sebagai hilangnya pengaruh Israel terhadap isu-isu yang secara langsung mempengaruhi kelangsungan hidupnya. Hal ini melemahkan posisi Netanyahu di mata publik dan komunitas internasional.
- Tekanan Domestik: Di dalam negeri, situasi ini dapat memicu kritik tajam dari lawan politiknya. Mereka mempertanyakan efektivitas kebijakan luar negeri Netanyahu yang terkesan terlalu bergantung pada satu administrasi AS, tanpa mempersiapkan diri untuk perubahan kepemimpinan atau dinamika geopolitik yang bergeser.
- Kredibilitas Menurun: Kegagalan untuk memastikan kursi Israel dalam perundingan krusial ini dapat merusak kredibilitas Netanyahu sebagai penjamin utama keamanan dan kedaulatan negara, berpotensi mempengaruhi stabilitas politik internalnya.
Kondisi ini menambah daftar tantangan bagi Netanyahu, yang sudah menghadapi gejolak politik internal dan tuduhan korupsi. Kemunduran diplomatik ini berpotensi memperparah persepsi publik tentang kemampuannya memimpin negara di masa-masa kritis.
Risiko Keamanan Nasional Israel yang Signifikan
Ketidakikutsertaan Israel dalam pembicaraan ini menimbulkan kekhawatiran yang mendalam mengenai bagaimana hasil negosiasi akan mempengaruhi keamanan nasionalnya. Kekhawatiran utama Israel meliputi:
- Program Nuklir Iran: Israel khawatir bahwa kesepakatan apa pun yang dicapai tanpa keterlibatannya mungkin tidak secara memadai mengatasi aspek-aspek krusial dari program nuklir Iran. Ini termasuk pengembangan sentrifugal canggih, pengayaan uranium, atau batasan pada kapasitas pengayaan setelah jangka waktu tertentu yang dirasa terlalu singkat. Kunjungi situs Council on Foreign Relations untuk informasi lebih lanjut tentang Kesepakatan Nuklir Iran.
- Pengembangan Rudal: Israel memandang pengembangan rudal balistik Iran, yang umumnya tidak tercakup dalam JCPOA asli, sebagai ancaman langsung yang tidak dapat diabaikan. Tanpa perwakilannya, Israel khawatir isu krusial ini akan terabaikan dalam diskusi yang lebih luas.
- Dukungan Proksi: Israel sangat prihatin dengan dukungan Iran terhadap kelompok-kelompok seperti Hizbullah di Lebanon dan Hamas di Gaza. Pembicaraan yang tidak membahas secara tegas aktivitas regional Iran dapat memperkuat kemampuan Teheran untuk mendestabilisasi wilayah tersebut.
- Kehilangan Pengaruh: Ketiadaan di meja perundingan berarti Israel kehilangan kesempatan emas untuk secara langsung menyuarakan ‘garis merah’ keamanannya dan memastikan bahwa kepentingannya dipertimbangkan secara serius dalam setiap perjanjian akhir. Ini berpotensi memaksa Israel untuk mengambil tindakan sepihak di masa depan.
Analis melihat situasi ini sebagai dilema strategis bagi Israel. Jika merasa bahwa kesepakatan yang dicapai membahayakan keamanannya, Israel mungkin terdorong untuk mengambil tindakan unilateral, yang berpotensi memicu konflik regional yang lebih luas. Oleh karena itu, menjaga komunikasi terbuka dengan AS, meskipun tanpa kehadiran langsung di meja perundingan, menjadi semakin vital bagi Israel untuk mencoba mempengaruhi arah diskusi dan melindungi kepentingannya.