Tim penyelamat mengevakuasi Dawa Sherpa dari ketinggian di Gunung Everest setelah ia ditemukan hidup pasca menghilang selama enam hari. (Foto: nytimes.com)
Dawa Sherpa Selamat Setelah 6 Hari di Everest, Keluarga Tuntut Penjelasan Dugaan Penelantaran
Seorang pemandu gunung berpengalaman, Dawa Sherpa (57), berhasil ditemukan dalam keadaan hidup pada Kamis lalu, setelah nyaris seminggu, atau enam hari tepatnya, menghilang di ketinggian mematikan Gunung Everest. Keberhasilan penyelamatan ini memicu rasa lega sekaligus gejolak emosi di Nepal, menyusul tuduhan serius dari pihak keluarga. Istri Dawa, dengan suara bergetar namun tegas, menyatakan bahwa suaminya telah ditinggalkan dan upaya pencarian yang dilakukan dianggap tidak optimal, sehingga menunda penemuan Dawa lebih lama dari yang seharusnya.
Insiden dramatis ini membuka kembali perdebatan sengit mengenai etika, tanggung jawab, dan keselamatan para Sherpa yang menjadi tulang punggung industri pendakian Everest. Keluarga Dawa kini menuntut penyelidikan menyeluruh untuk mengungkap mengapa seorang Sherpa berpengalaman dibiarkan sendirian di salah satu lingkungan paling ekstrem di planet ini, terutama setelah ia terakhir terlihat dan tidak ada tindakan cepat untuk memverifikasi keselamatannya.
Penemuan Dramatis Setelah Enam Hari Terjebak
Kabar penemuan Dawa Sherpa menyebar cepat, membawa secercah harapan di tengah kekhawatiran yang mendalam. Ia terakhir terlihat pada Jumat pekan sebelumnya di jalur pendakian yang sangat berbahaya. Selama enam hari, Dawa harus berjuang melawan kondisi cuaca ekstrem, suhu beku, dan kekurangan oksigen yang menjadi ciri khas ‘zona kematian’ Everest. Detail mengenai bagaimana ia bisa bertahan hidup dan kondisi saat ditemukan belum dijelaskan secara rinci oleh tim penyelamat. Namun, fakta bahwa ia ditemukan hidup setelah periode waktu yang sangat panjang di lingkungan tersebut dianggap sebagai keajaiban dan bukti ketahanan luar biasa para Sherpa.
“Kami tidak tahu persis bagaimana ia bisa bertahan begitu lama. Ini adalah sebuah keajaiban,” kata seorang pejabat dari Asosiasi Pemandu Gunung Nepal, yang enggan disebutkan namanya, merujuk pada kondisi cuaca yang tidak menentu belakangan ini. “Setiap jam di ketinggian itu bisa berarti kematian, apalagi berhari-hari.”
Tuduhan Keras Keluarga: ‘Ditinggalkan di Gunung Kematian’
Meski merasa bersyukur suaminya ditemukan, istri Dawa Sherpa tidak bisa menyembunyikan kekesalannya. Ia secara terbuka menuduh pihak ekspedisi atau rekan tim yang lain telah meninggalkan suaminya dan tidak melakukan pencarian dengan cukup serius pada awalnya. “Enam hari adalah waktu yang sangat lama. Apakah mereka menunggu sampai terlalu larut? Apakah nyawa seorang Sherpa tidak seberharga pendaki asing?” tuturnya dengan nada putus asa namun menuntut keadilan.
- Klaim Penelantaran: Keluarga Dawa meyakini ada kelalaian serius dari pihak yang bertanggung jawab atas keselamatan Dawa setelah ia terakhir terlihat.
- Pertanyaan tentang Respons: Mengapa respons pencarian dan penyelamatan tidak segera diluncurkan atau dipercepat mengingat bahaya ekstrem di ketinggian Everest?
- Perbandingan Nilai Nyawa: Keluarga secara implisit mempertanyakan apakah nyawa Sherpa dipandang sama pentingnya dengan nyawa pendaki yang membayar mahal untuk ekspedisi.
Pernyataan ini menggarisbawahi kegelisahan yang telah lama ada di komunitas Sherpa mengenai perlakuan dan pengorbanan mereka di gunung. Mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa, namun seringkali merasa kurang dihargai dan diekspos pada risiko yang tidak proporsional.
Risiko dan Etika di Puncak Everest
Insiden Dawa Sherpa menambah daftar panjang tantangan dan tragedi yang melingkupi pendakian Everest, terutama bagi para Sherpa. Para “penjaga gunung” ini adalah para ahli yang mempersiapkan jalur, membawa beban berat, dan memastikan keselamatan klien asing. Namun, mereka juga menanggung risiko terbesar, dengan tingkat kematian yang jauh lebih tinggi dibandingkan pendaki komersial. Kasus seperti ini bukan kali pertama terjadi, mengingatkan kita pada berbagai insiden tragis sebelumnya di mana Sherpa kehilangan nyawa atau ditinggalkan dalam kondisi kritis. Kehidupan berbahaya para Sherpa di Everest adalah fakta yang tak terbantahkan, seringkali terpinggirkan dari sorotan publik.
“Kami melihat pendaki asing sering digambarkan sebagai pahlawan, tetapi tanpa para Sherpa, sebagian besar ekspedisi tidak akan pernah mencapai puncak,” jelas seorang veteran pendaki gunung dari Nepal, yang meminta namanya dirahasiakan. “Namun, ketika ada masalah, terutama yang melibatkan Sherpa, responsnya kadang tidak secepat atau seserius ketika seorang klien asing yang terancam.”
Seruan untuk Penyelidikan dan Tanggung Jawab Lebih Jauh
Keluarga Dawa Sherpa dan berbagai organisasi pendaki gunung kini menyerukan penyelidikan independen terhadap insiden ini. Mereka mendesak agar protokol keselamatan bagi Sherpa diperkuat dan adanya kejelasan mengenai siapa yang bertanggung jawab penuh dalam kasus hilangnya seorang Sherpa di tengah ekspedisi. Insiden ini diharapkan menjadi titik balik untuk meninjau kembali praktik-praktik ekspedisi di Everest, memastikan bahwa semua nyawa, tanpa terkecuali, dihargai dan dilindungi secara maksimal. Keselamatan para Sherpa tidak hanya merupakan tanggung jawab moral, tetapi juga fondasi keberlanjutan industri pariwisata pendakian Everest itu sendiri.