Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Ni Luh Enik Ermawati saat menyampaikan pernyataan mengenai peran strategis Aceh Culinary Festival dalam mempromosikan kekayaan kuliner daerah. (Foto: eventnusantara.com)
BANDA ACEH – Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Wamenparekraf) Ni Luh Enik Ermawati menegaskan bahwa Aceh Culinary Festival (ACF) yang dijadwalkan berlangsung dari 11 hingga 14 September 2026 merupakan pilar penting dalam program strategis Wonderful Indonesia Gastronomy. Inisiatif ini dirancang khusus untuk mengukuhkan dan mempromosikan kekayaan kuliner Aceh, tidak hanya sebagai daya tarik rasa, tetapi juga sebagai refleksi mendalam dari budaya dan tradisi lokal yang otentik.
Pernyataan Wamenparekraf ini menggarisbawahi visi pemerintah untuk memanfaatkan potensi gastronomi sebagai salah satu motor penggerak pariwisata nasional. ACF diharapkan menjadi platform yang komprehensif, bukan sekadar etalase makanan, melainkan sebuah perayaan identitas budaya Aceh yang kaya. Festival ini bertujuan untuk membawa pengalaman kuliner otentik kepada wisatawan domestik maupun mancanegara, sekaligus memperkenalkan sejarah panjang dan filosofi di balik setiap hidangan khas Tanah Rencong. Melalui ACF, Kemenparekraf berupaya memastikan bahwa kekayaan kuliner daerah seperti Aceh mendapatkan panggung yang layak, memperkuat branding Wonderful Indonesia di mata dunia.
Strategi Wonderful Indonesia Gastronomy: Lebih dari Sekadar Rasa
Program Wonderful Indonesia Gastronomy yang menjadi payung bagi ACF memiliki misi yang lebih luas dari sekadar promosi. Ini adalah strategi terintegrasi untuk:
- Mengidentifikasi dan Mengembangkan Potensi Kuliner: Memetakan keunikan kuliner daerah dan mendukung pengembangannya secara berkelanjutan.
- Meningkatkan Nilai Ekonomi: Menggerakkan perekonomian lokal melalui sektor kuliner, dari petani bahan baku hingga pelaku UMKM kuliner.
- Melestarikan Warisan Budaya: Menjaga resep tradisional, teknik memasak, dan cerita di balik setiap hidangan agar tidak punah atau terdistorsi.
- Mempromosikan Pariwisata Berkelanjutan: Menarik wisatawan yang mencari pengalaman otentik dan bertanggung jawab, mendorong apresiasi terhadap budaya lokal.
Wamenparekraf Ni Luh Enik Ermawati menekankan, “Kegiatan ini tidak hanya mengedepankan cita rasa, tetapi juga budaya dan tradisi. Aceh Culinary Festival ini harusnya bisa menjadi platform yang efektif untuk menampilkan keunikan kuliner Aceh yang telah dikenal dunia, sekaligus mendorong inovasi tanpa menghilangkan otentisitasnya.” Pernyataan ini menunjukkan komitmen untuk menjadikan ACF sebagai ajang yang berkelanjutan dan memberikan dampak jangka panjang bagi Aceh, melampaui euforia sesaat sebuah festival.
Dampak Ekonomi dan Pelestarian Budaya Melalui ACF
Penyelenggaraan ACF pada 2026 diproyeksikan memberikan dorongan signifikan bagi perekonomian lokal Aceh. Festival semacam ini secara langsung menciptakan peluang kerja bagi masyarakat setempat, mulai dari penyedia bahan baku lokal seperti rempah-rempah dan hasil bumi, para juru masak tradisional, hingga pelaku industri kreatif yang terlibat dalam dekorasi dan hiburan. UMKM kuliner Aceh akan mendapatkan visibilitas yang lebih luas, membuka pasar baru, dan berpotensi meningkatkan pendapatan secara signifikan.
Selain itu, ACF juga berfungsi sebagai katalisator untuk pelestarian budaya. Banyak resep tradisional Aceh yang diwariskan secara turun-temurun berisiko terlupakan seiring modernisasi. Dengan adanya festival ini, resep-resep tersebut akan hidup kembali, bahkan diajarkan kepada generasi muda melalui demonstrasi memasak atau lokakarya. Ini akan menjaga keberlanjutan warisan kuliner yang tidak ternilai harganya. Wisatawan yang datang tidak hanya menikmati makanan, tetapi juga merasakan narasi budaya yang melekat pada setiap suapan, mulai dari kari kambing sie reuboh yang kaya rempah hingga kopi Gayo yang mendunia. Upaya ini sejalan dengan visi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dalam mengembangkan gastronomi Indonesia.
Menghubungkan Masa Lalu dengan Masa Depan Kuliner Aceh
Kehadiran ACF pada tahun 2026 ini bukan merupakan upaya yang berdiri sendiri, melainkan kelanjutan dari serangkaian inisiatif pemerintah dan komunitas dalam mempromosikan kekayaan kuliner Aceh. Sejarah panjang Aceh sebagai salah satu pintu gerbang perdagangan rempah dan budaya di Nusantara telah membentuk khazanah kuliner yang unik, kaya akan pengaruh India, Arab, dan Tiongkok, namun tetap mempertahankan identitas lokal yang kuat. Festival-festival sebelumnya dan upaya kolektif dari berbagai pihak telah meletakkan fondasi kuat, dan ACF 2026 akan menjadi babak baru untuk membawa kuliner Aceh ke panggung yang lebih tinggi, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Kemenparekraf berharap ACF dapat menjadi magnet bagi wisatawan yang mencari pengalaman kuliner otentik. Melalui strategi promosi yang terarah, termasuk penggunaan platform digital dan kerja sama dengan pelaku pariwisata, ACF diharapkan mampu menarik ribuan pengunjung. Ini bukan hanya tentang jumlah pengunjung, melainkan juga tentang menciptakan citra Aceh sebagai destinasi gastronomi unggulan yang memiliki nilai tambah budaya dan pengalaman yang tak terlupakan.
Dalam jangka panjang, kesuksesan ACF tidak hanya diukur dari ramainya pengunjung, tetapi juga dari keberlanjutan ekosistem kuliner Aceh itu sendiri. Integrasi antara petani lokal, UMKM, dan industri pariwisata akan menjadi kunci untuk memastikan bahwa kekayaan kuliner Aceh tidak hanya dinikmati sesaat, tetapi terus tumbuh dan memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat luas.