Presiden Donald Trump (kanan) dan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu (kiri) dalam pertemuan bilateral. Hubungan kedua pemimpin yang seringkali tampak solid kini diwarnai friksi terbuka. (Foto: cnnindonesia.com)
Trump Luapkan Frustrasi pada Netanyahu: Klaim Kunci Eksistensi Israel
Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka meluapkan kekecewaan mendalam terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Kekecewaan ini muncul menyusul langkah-langkah Israel yang dinilai Trump telah mempersulit prospek perundingan antara Amerika Serikat dan Iran. Dalam pernyataan yang penuh bobot, Trump bahkan secara blak-blakan mengklaim bahwa tanpa perannya, negara Israel mungkin tidak akan eksis. Pernyataan kontroversial ini menyoroti retaknya dinamika hubungan antara dua sekutu dekat tersebut di tengah upaya diplomatik Washington yang rumit di Timur Tengah.
Fokus kekecewaan Trump berpusat pada tindakan-tindakan Israel yang menurutnya mengganggu upaya AS untuk membuka jalur dialog dengan Teheran. Meskipun rincian spesifik mengenai ‘langkah-langkah’ tersebut tidak dijelaskan secara gamblang oleh Trump, secara historis, Israel di bawah kepemimpinan Netanyahu selalu menentang keras setiap bentuk negosiasi atau konsesi dengan Iran, terutama terkait program nuklarnya. Bagi Netanyahu, Iran adalah ancaman eksistensial, dan pendekatan diplomatik sering kali dianggap sebagai bentuk legitimasi bagi rezim yang dianggapnya berbahaya.
Klaim Kontroversial dan Sejarah Dukungan AS
Klaim Trump bahwa tanpa dirinya Israel tidak akan ada, merupakan puncak dari serangkaian pernyataan yang menunjukkan betapa tingginya persepsi dirinya terhadap kontribusi administrasinya untuk keamanan dan posisi geopolitik Israel. Selama masa kepresidenannya, Trump memang mengambil beberapa kebijakan yang sangat pro-Israel dan disambut hangat oleh Netanyahu, termasuk:
- Pemindahan Kedutaan Besar AS ke Yerusalem: Sebuah langkah yang memecah belah dan secara signifikan mengubah kebijakan luar negeri AS selama puluhan tahun, mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.
- Pengakuan Kedaulatan Israel atas Dataran Tinggi Golan: Wilayah yang direbut dari Suriah pada tahun 1967 dan dianeksasi oleh Israel, yang sebelumnya tidak diakui secara internasional.
- Penarikan Diri dari Kesepakatan Nuklir Iran (JCPOA): Sebuah keputusan yang sangat didukung oleh Netanyahu, yang menganggap kesepakatan tersebut terlalu lunak terhadap Teheran.
- Inisiatif ‘Kesepakatan Abad Ini’: Rencana perdamaian Timur Tengah yang kontroversial dan dinilai sangat menguntungkan Israel, meskipun akhirnya gagal mencapai terobosan berarti.
Dari perspektif Trump, serangkaian kebijakan ini telah memberikan dukungan tak tergoyahkan bagi Israel, sehingga ia merasa ‘dikhianati’ ketika Netanyahu mengambil tindakan yang berpotensi merusak agenda diplomatik AS sendiri, terutama terkait Iran.
Hambatan Israel dalam Diplomasi Iran
Ketegangan antara AS dan Iran telah menjadi salah satu fokus utama kebijakan luar negeri Trump setelah ia menarik diri dari Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) pada 2018 dan menerapkan ‘kampanye tekanan maksimum’. Meskipun secara retoris keras, Trump juga beberapa kali menunjukkan minat untuk melakukan negosiasi ulang dengan Iran untuk mencapai kesepakatan yang ‘lebih baik’. Namun, upaya ini selalu dihadapkan pada skeptisisme mendalam, baik dari Teheran maupun dari sekutu AS sendiri seperti Israel.
Langkah Israel yang ‘mempersulit’ prospek perundingan AS-Iran bisa merujuk pada beberapa hal. Ini mungkin mencakup:
* Pernyataan publik yang mengkritik gagasan negosiasi atau menuntut syarat yang tidak realistis dari Iran.
* Lobi intensif di Washington untuk menekan administrasi Trump agar tidak melonggarkan sanksi atau bernegosiasi.
* Operasi intelijen atau militer rahasia yang mungkin dirancang untuk mengganggu program nuklir Iran, yang secara tidak langsung dapat meningkatkan ketegangan dan membuat diplomasi lebih sulit.
Sikap Netanyahu yang konsisten bahwa Iran tidak bisa dipercaya dan harus dihadapi dengan kekuatan, secara fundamental bertentangan dengan setiap upaya AS untuk membuka dialog. Konflik kepentingan ini menciptakan friksi signifikan antara Washington dan Tel Aviv, meski di permukaan, hubungan kedua negara tampak solid.
Implikasi bagi Hubungan AS-Israel dan Stabilitas Regional
Friksi terbuka antara pemimpin AS dan Israel ini berpotensi memiliki implikasi jangka panjang bagi hubungan bilateral kedua negara, serta stabilitas regional yang lebih luas. Meskipun AS dan Israel memiliki ikatan strategis dan keamanan yang kuat, perbedaan pandangan mendasar mengenai Iran dapat memperlebar jurang kepercayaan. Netanyahu, yang dikenal sebagai politikus ulung, juga menghadapi tekanan politik domestik yang membuatnya harus tampil kuat dalam menghadapi ancaman regional, termasuk dari Iran.
Retorika keras Trump juga dapat memberikan sinyal yang ambigu kepada Iran, yang mungkin menafsirkan perpecahan di antara musuh-musuhnya sebagai peluang. Di sisi lain, hal ini juga dapat memicu kekhawatiran di kalangan negara-negara Teluk Arab yang secara tradisional bergantung pada kepemimpinan AS dalam menghadapi ancaman Iran, sekaligus melihat Israel sebagai sekutu tidak resmi.
Baca juga: Analisis Reuters: Sejarah Program Nuklir Iran dan Upaya Diplomasi Internasional
Dinamika Politik di Balik Friksi
Kekecewaan Trump terhadap Netanyahu juga harus dilihat dalam konteks dinamika politik internal masing-masing negara. Trump, di masa-masa kepresidenannya, sering kali mencari kemenangan diplomatik besar untuk memperkuat citranya di mata pemilih. Negosiasi dengan Iran, jika berhasil, bisa menjadi warisan kebijakan luar negeri yang signifikan. Sementara itu, Netanyahu, yang juga menghadapi tantangan politik dan hukum di dalam negeri, sering menggunakan isu keamanan nasional, termasuk ancaman Iran, sebagai poin penting untuk menggalang dukungan publik.
Gesekan antara kedua pemimpin ini bukan kali pertama terjadi. Meskipun seringkali menampilkan persahabatan yang erat, keduanya memiliki ego dan agenda politik yang kuat, yang sesekali berbenturan ketika kepentingan nasional atau pribadi dianggap saling menghalangi. Pernyataan Trump ini adalah pengingat bahwa bahkan di antara sekutu terdekat sekalipun, perbedaan strategi dan kepentingan dapat memicu ketegangan yang sulit disembunyikan.