Mantan Presiden AS Donald Trump saat berpidato. Desakannya agar negara-negara Teluk mengganti biaya pengamanan Selat Hormuz mencerminkan kebijakan 'America First' yang berupaya membebankan biaya pertahanan kepada sekutu. (Foto: cnnindonesia.com)
Mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Senin (13/7/2020) secara blak-blakan mendesak negara-negara di kawasan Teluk untuk mengganti seluruh biaya yang dikeluarkan Washington untuk menjaga keamanan Selat Hormuz dan wilayah sekitarnya. Desakan ini merupakan manifestasi lain dari filosofi kebijakan luar negerinya yang dikenal sebagai “America First,” yang menuntut sekutu dan mitra untuk menanggung beban finansial lebih besar atas perlindungan yang diberikan AS.
Pernyataan tersebut menyoroti kembali perdebatan panjang mengenai pembagian beban dalam aliansi militer dan operasi keamanan global yang melibatkan Amerika Serikat. Selama masa kepemimpinannya, Trump secara konsisten menyuarakan ketidakpuasannya terhadap apa yang ia anggap sebagai ketidakadilan, di mana AS memikul sebagian besar biaya pertahanan dan keamanan global, sementara negara-negara lain, termasuk sekutu kaya, tidak memberikan kontribusi yang sepadan.
Latar Belakang Desakan “America First”
Kebijakan “America First” yang diusung Trump tidak hanya berfokus pada ekonomi domestik, tetapi juga secara fundamental mengubah paradigma hubungan internasional Amerika Serikat. Salah satu pilar utamanya adalah penekanan pada pembagian beban yang lebih adil dalam hal pertahanan. Ini terlihat jelas dalam kritik kerasnya terhadap anggota NATO, Korea Selatan, dan Jepang, yang dianggapnya terlalu sedikit berkontribusi pada anggaran pertahanan bersama atau biaya pangkalan militer AS di wilayah mereka.
Desakan terhadap negara-negara Teluk ini muncul di tengah ketegangan yang meningkat di kawasan tersebut pada periode tersebut. Insiden seperti serangan terhadap kapal tanker minyak dan penembakan drone, meskipun tidak secara langsung disebutkan dalam permintaan Trump, memperjelas kebutuhan akan kehadiran keamanan yang kuat. Amerika Serikat telah mempertahankan kehadiran militer yang signifikan di Timur Tengah selama beberapa dekade, terutama untuk:
- Menjamin kebebasan navigasi di jalur pelayaran vital.
- Melindungi kepentingan energi global.
- Mencegah agresi regional.
- Menjaga stabilitas kawasan.
Trump berargumen bahwa negara-negara Teluk, yang secara langsung diuntungkan dari stabilitas dan keamanan yang dijaga oleh kehadiran militer AS, harus bertanggung jawab secara finansial. Pernyataan ini mencerminkan pandangan bahwa perlindungan AS bukanlah hak yang gratis, melainkan sebuah layanan yang harus dibayar oleh penerima manfaatnya.
Implikasi dan Reaksi Potensial
Permintaan Trump ini menimbulkan berbagai pertanyaan dan potensi implikasi, baik bagi Amerika Serikat maupun negara-negara Teluk:
- Beban Finansial yang Signifikan: Jika negara-negara Teluk setuju untuk mengganti biaya penuh, ini akan menjadi beban finansial yang sangat besar, meskipun beberapa negara Teluk dikenal memiliki cadangan devisa yang besar dari penjualan minyak.
- Pergeseran Dinamika Hubungan: Pergeseran dari perlindungan gratis ke model ‘bayar-untuk-layanan’ bisa mengubah sifat hubungan bilateral AS dengan negara-negara Teluk. Ini bisa memicu ketidaknyamanan diplomatik dan potensi negosiasi ulang perjanjian pertahanan.
- Kedaulatan dan Otonomi: Beberapa negara Teluk mungkin melihat desakan ini sebagai intervensi terhadap kedaulatan mereka atau upaya untuk melemahkan posisi tawar mereka dalam aliansi.
- Dampak Geopolitik Lebih Luas: Jika AS mengurangi kehadirannya atau negara-negara Teluk menolak, ini bisa menciptakan kekosongan kekuatan yang berpotensi dimanfaatkan oleh aktor regional atau global lainnya, berpotensi mengganggu keseimbangan kekuatan yang ada.
Belum jelas berapa nominal pasti yang diminta Trump atau apakah ada mekanisme khusus yang diusulkan untuk pembayaran ini. Namun, desakan ini sejalan dengan pola yang sudah-sudah di mana Trump berulang kali menekan sekutu untuk membayar lebih. Sebagai contoh, perundingan dengan Korea Selatan mengenai biaya pangkalan militer AS di sana juga sangat alot dan menjadi sorotan publik.
Pentingnya Selat Hormuz bagi Ekonomi Global
Selat Hormuz adalah salah satu jalur pelayaran minyak terpenting di dunia. Terletak antara Iran dan Oman, selat ini menghubungkan produsen minyak utama di Timur Tengah (seperti Arab Saudi, Iran, UEA, Kuwait, dan Irak) dengan pasar global. Diperkirakan sekitar sepertiga dari seluruh minyak yang diperdagangkan di dunia melewati selat ini setiap hari, menjadikannya chokepoint yang sangat krusial bagi pasokan energi global dan stabilitas ekonomi dunia.
Setiap gangguan di Selat Hormuz, sekecil apa pun, dapat menyebabkan lonjakan harga minyak global yang signifikan dan memicu kekhawatiran geopolitik. Oleh karena itu, keamanan selat ini bukan hanya menjadi kepentingan negara-negara Teluk atau Amerika Serikat, tetapi juga menjadi kepentingan seluruh komunitas internasional. Pertanyaan yang diajukan Trump adalah, siapa yang harus menanggung biaya untuk menjaga kepentingan bersama ini.
Desakan Trump pada Juli 2020 ini mencerminkan pendekatan transaksional terhadap hubungan internasional yang menjadi ciri khas pemerintahannya. Meskipun tidak lagi menjabat, wacana yang pernah ia bangun mengenai pembagian beban pertahanan tetap relevan dalam diskusi seputar strategi keamanan dan hubungan antar negara di masa depan.