Seorang pemandu pendakian menceritakan kronologi erupsi Gunung Dukono yang menewaskan tiga pendaki. (Foto: bbc.com)
Tragedi Erupsi Gunung Dukono Tewaskan Tiga Pendaki, Pemandu Ungkap Kesaksian Pilu
Tragedi erupsi Gunung Dukono di Halmahera, Maluku Utara, menewaskan tiga pendaki, termasuk dua warga negara Singapura. Peristiwa nahas ini menyisakan duka mendalam bagi keluarga korban dan penyesalan tak berujung bagi pemandu lokal yang mendampingi rombongan tersebut. Sang pemandu, yang identitasnya tidak disebutkan demi melindungi privasinya, menuturkan rangkaian kejadian mengerikan saat gunung berapi aktif itu tiba-tiba memuntahkan material panas dan abu.
Insiden ini kembali menyoroti pentingnya kepatuhan terhadap prosedur keselamatan dan evaluasi risiko mendaki gunung berapi, mengingatkan kita pada berbagai kejadian serupa di masa lalu yang juga menelan korban jiwa. Kronologi yang dibagikan pemandu ini diharapkan menjadi pelajaran berharga bagi para petualang dan pihak terkait dalam mitigasi bencana pendakian.
Detik-detik Mencekam di Puncak Dukono
Pemandu tersebut menjelaskan, rombongan mereka sedang dalam perjalanan pendakian Gunung Dukono, sebuah gunung berapi stratovulkanik yang dikenal aktif namun kerap menjadi tujuan favorit para pendaki. Pada saat kejadian, mereka tidak menyadari tanda-tanda erupsi besar akan datang. Cuaca yang mulanya cerah tiba-tiba berubah drastis.
“Kami sedang di jalur yang lumayan tinggi, tidak jauh dari puncak,” kata pemandu tersebut dengan suara bergetar. “Tiba-tiba terdengar suara gemuruh yang sangat kencang, diikuti oleh lontaran material vulkanik dan awan panas yang tebal. Semuanya terjadi begitu cepat, kami tidak punya banyak waktu untuk bereaksi.”
Kepanikan segera melanda. Pemandu berusaha mengarahkan para pendaki untuk mencari perlindungan, namun kondisi di lapangan sangat ekstrem. Visibilitas menurun drastis akibat abu tebal, dan material vulkanik terus berjatuhan. Dalam kekacauan tersebut, tiga pendaki terpisah dari rombongan utama dan akhirnya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Dua korban diidentifikasi sebagai warga Singapura, menambah dimensi internasional pada tragedi ini.
Pemandu: ‘Ingin Sujud di Kaki Orang Tua Korban’
Duka dan rasa bersalah mendalam terlihat jelas pada wajah pemandu yang berhasil selamat. Ia mengungkapkan permohonan maaf yang tulus kepada keluarga korban, terutama orang tua dari kedua pendaki asal Singapura tersebut. “Saya sangat menyesal. Saya ingin sekali bersujud di kaki orang tua mereka untuk meminta maaf,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Rasa tanggung jawab sebagai pemandu yang gagal melindungi tamunya sangat membebani pikirannya. Meskipun erupsi gunung berapi adalah bencana alam yang seringkali tak terduga, ia merasa gagal dalam menjalankan tugasnya. Kesaksiannya ini menjadi cerminan betapa beratnya beban moral yang diemban oleh para pemandu wisata, terutama ketika berhadapan dengan risiko tinggi seperti pendakian gunung berapi.
Evaluasi Keamanan dan Pentingnya Mitigasi Bencana
Tragedi Gunung Dukono ini harus menjadi momentum penting untuk mengevaluasi kembali standar keamanan pendakian di gunung-gunung berapi aktif di Indonesia. Beberapa poin penting yang perlu menjadi perhatian:
- Edukasi Risiko: Pendaki harus sepenuhnya memahami risiko yang melekat pada pendakian gunung berapi, termasuk erupsi mendadak.
- Sistem Peringatan Dini: Peningkatan sistem pemantauan dan peringatan dini dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) harus diintegrasikan secara efektif hingga ke tingkat pemandu dan pengunjung.
- Pelatihan Pemandu: Pemandu perlu mendapatkan pelatihan intensif mengenai penanganan darurat, evakuasi, dan pertolongan pertama di medan ekstrem.
- Kepatuhan Regulasi: Penegakan aturan mengenai izin pendakian dan batas aman zona bahaya harus diperketat tanpa kompromi.
- Peralatan Darurat: Setiap rombongan pendaki, terutama di gunung berapi aktif, wajib dilengkapi dengan peralatan darurat dan komunikasi yang memadai.
Pemerintah daerah dan pihak terkait diharapkan dapat bekerja sama untuk merumuskan kebijakan yang lebih ketat demi menjamin keselamatan para pendaki. Bencana alam memang tidak dapat dihindari sepenuhnya, namun dampaknya dapat diminimalisir melalui persiapan dan kesiapsiagaan yang matang. Kisah pilu dari Gunung Dukono ini harus menjadi pengingat pahit akan kekuatan alam dan pentingnya selalu mendahulukan keselamatan di atas segalanya.