(Foto: sport.detik.com)
Javier Tebas Desak Gianni Infantino Mundur dari FIFA: Prioritaskan Uang di Atas Sepak Bola
Presiden LaLiga, Javier Tebas, secara terang-terangan mendesak Presiden FIFA, Gianni Infantino, untuk mundur dari jabatannya. Tebas menuding pria asal Swiss itu lebih mengutamakan keuntungan finansial ketimbang esensi dan perkembangan sepak bola itu sendiri. Pernyataan pedas ini kembali mengemuka di tengah meningkatnya ketegangan antara liga-liga top Eropa dan badan sepak bola dunia terkait kalender pertandingan serta format turnamen masa depan. Desakan ini bukan kali pertama dilayangkan Tebas, yang selama ini dikenal vokal mengkritisi kebijakan FIFA yang dianggapnya merugikan kompetisi domestik dan kesejahteraan pemain.
Tebas secara lugas menyatakan kekecewaannya terhadap kepemimpinan Infantino, menggambarkan FIFA di bawah kendalinya sebagai organisasi yang “hanya peduli cuan dan bodo amat dengan sepakbola”. Kritik ini menggarisbawahi persepsi bahwa keputusan-keputusan strategis FIFA lebih didorong oleh potensi pendapatan komersial daripada pertimbangan sporting integrity, kesehatan pemain, atau pengalaman penggemar. Pernyataan tersebut bukan sekadar kritik personal, melainkan refleksi dari ketidakpuasan yang lebih luas di kalangan liga-liga domestik terkemuka yang merasa terancam oleh ekspansi ambisius turnamen-turnamen FIFA.
Kritik Tajam Tebas: Orientasi Profit di Atas Semangat Sepak Bola
Inti dari kritik Javier Tebas terletak pada dugaan prioritas FIFA di bawah Gianni Infantino. Menurut Tebas, serangkaian keputusan dan proposal yang diluncurkan FIFA, seperti ekspansi Piala Dunia menjadi 48 tim dan rencana Piala Dunia Klub dengan format baru yang lebih besar, secara jelas menunjukkan orientasi profit yang dominan. Ia berargumen bahwa penambahan jumlah pertandingan dan turnamen global ini hanya akan membebani jadwal yang sudah padat, meningkatkan risiko cedera pemain, serta berpotensi mendegradasi kualitas dan daya tarik kompetisi domestik yang menjadi tulang punggung ekosistem sepak bola.
Bagi Tebas, semangat sepak bola bukan hanya tentang menghasilkan uang. Ia menegaskan bahwa nilai-nilai inti seperti fair play, persaingan yang sehat antar klub dan liga, serta koneksi emosional dengan penggemar harus tetap menjadi yang utama. Kritik ini muncul dari kekhawatiran bahwa pengejaran keuntungan tanpa henti dapat mengikis fondasi-fondasi tersebut, mengubah sepak bola dari olahraga yang dicintai menjadi sekadar produk komersial belaka. LaLiga, di bawah kepemimpinan Tebas, selalu berargumen bahwa liga-liga domestik adalah inkubator bakat dan fondasi kekuatan sepak bola global, yang patut dilindungi dari jadwal yang terlalu padat dan inovasi yang meragukan.
Mega Proyek FIFA dan Kekhawatiran Konsekuensi
Di bawah kepemimpinan Gianni Infantino, FIFA memang telah memperkenalkan beberapa mega proyek yang bertujuan untuk memperluas jangkauan dan pendapatan sepak bola global. Salah satu yang paling menonjol adalah keputusan untuk memperluas format Piala Dunia pria dari 32 menjadi 48 tim, yang akan mulai berlaku pada edisi 2026. Selain itu, FIFA juga telah mengumumkan rencana untuk menggelar Piala Dunia Klub dengan 32 tim, yang akan dimulai pada tahun 2025 di Amerika Serikat, sebuah langkah yang juga menuai banyak pro dan kontra. (Sumber)
FIFA membela kebijakan-kebijakan ini dengan alasan bahwa ekspansi akan memberikan lebih banyak kesempatan bagi negara-negara berkembang untuk berpartisipasi dan mendapatkan bagian dari kue finansial sepak bola global. Mereka juga berpendapat bahwa peningkatan pendapatan akan memungkinkan FIFA untuk menginvestasikan lebih banyak dana ke dalam pengembangan sepak bola di seluruh dunia. Namun, para kritikus seperti Tebas melihat sisi lain dari koin ini: potensi kelelahan pemain, jadwal yang kian brutal tanpa jeda yang cukup, serta hilangnya ‘eksklusivitas’ dan prestise turnamen jika terlalu sering diadakan atau terlalu banyak tim yang berpartisipasi. Liga-liga domestik khawatir bahwa turnamen-turnamen FIFA yang lebih besar akan memakan waktu di kalender mereka, mengurangi daya tarik pertandingan liga, dan pada akhirnya merugikan klub-klub yang menginvestasikan miliaran dalam pemain dan infrastruktur.
Sejarah Ketegangan LaLiga dan FIFA: Bukan Pertama Kali
Desakan Tebas untuk mundur yang ditujukan kepada Infantino bukan merupakan insiden yang terisolasi. Ini adalah babak terbaru dalam sejarah panjang ketegangan antara LaLiga, diwakili oleh Tebas yang vokal, dan badan-badan pengelola sepak bola global, termasuk FIFA dan UEFA. Tebas dikenal sebagai salah satu figur paling blak-blakan dalam sepak bola Eropa, yang secara konsisten membela kepentingan liga-liga domestik dari apa yang ia anggap sebagai ancaman dari atas.
Sebelumnya, Tebas adalah salah satu penentang paling keras dari proyek Liga Super Eropa (ESL), sebuah inisiatif yang juga memprioritaskan keuntungan di atas meritokrasi dan tradisi sepak bola. Meskipun di kasus ESL ia berpihak pada UEFA, kritiknya terhadap FIFA menunjukkan konsistensi sikapnya dalam menentang proyek-proyek yang dianggap merusak ekosistem sepak bola. Portal berita kami sendiri telah beberapa kali menyoroti ketegasan LaLiga dalam membela otonomi dan integritas kompetisi domestik Spanyol, mencerminkan adanya ketidakpuasan yang mendalam terhadap arah tata kelola sepak bola global saat ini.
Masa Depan Tata Kelola Sepak Bola Global
Kritik keras dari seorang pemimpin liga top seperti Javier Tebas terhadap presiden badan pengelola tertinggi sepak bola dunia menyoroti perdebatan yang lebih besar mengenai tata kelola dan masa depan olahraga ini. Ini adalah konflik filosofis antara visi sentralistik FIFA yang berusaha memperluas pengaruh dan pendapatannya secara global, dengan visi liga-liga domestik yang berjuang mempertahankan otonomi, tradisi, dan integritas kompetisi mereka. Pertanyaan utamanya adalah bagaimana menyeimbangkan kepentingan komersial yang tak terhindarkan dalam sepak bola modern dengan menjaga nilai-nilai inti olahraga, kesejahteraan pemain, dan minat penggemar sejati.
Apakah desakan Tebas akan membuahkan hasil atau hanya menjadi suara minoritas yang kuat, masih harus dilihat. Namun, hal ini jelas menambahkan tekanan pada kepemimpinan FIFA dan memicu diskusi penting tentang transparansi, akuntabilitas, dan arah yang diambil sepak bola dunia. Dialog yang konstruktif dan inklusif antara semua pemangku kepentingan — FIFA, konfederasi, liga, klub, asosiasi pemain, dan penggemar — menjadi krusial untuk memastikan bahwa sepak bola terus berkembang tanpa kehilangan jiwanya di tengah godaan finansial yang semakin besar.