Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru saat menyampaikan imbauan kepada masyarakat terkait kesiapsiagaan menghadapi ancaman kemarau dan karhutla. (Foto: news.detik.com)
Gubernur Herman Deru Minta Warga Sumsel Kompak Hadapi Ancaman Kemarau dan Karhutla
Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru, mengimbau seluruh lapisan masyarakat di provinsinya untuk memperkuat solidaritas dan gotong royong dalam menghadapi tantangan musim kemarau panjang serta potensi risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang semakin meningkat. Seruan ini disampaikan sebagai respons terhadap kondisi iklim global, khususnya fenomena El Nino, yang diprediksi akan memicu musim kemarau ekstrem di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Sumatera Selatan.
Herman Deru menekankan bahwa kesiapsiagaan dan partisipasi aktif dari seluruh elemen masyarakat menjadi kunci utama dalam upaya mitigasi. Tidak hanya melalui langkah-langkah praktis di lapangan, tetapi juga melalui pendekatan spiritual dengan menggelar Salat Istisqa untuk memohon hujan.
Ancaman Nyata Kemarau dan Karhutla di Sumatera Selatan
Sumatera Selatan memiliki sejarah panjang dengan karhutla yang kerap menimbulkan dampak serius, baik bagi lingkungan, kesehatan masyarakat, maupun perekonomian. Setiap tahun, ketika musim kemarau tiba, ancaman asap dan titik api menjadi momok yang harus diwaspadai. Data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) maupun Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) seringkali menempatkan Sumsel sebagai salah satu provinsi prioritas dalam penanganan karhutla. Musim kemarau yang panjang dapat mengeringkan gambut dan lahan rawa, menjadikannya sangat rentan terbakar. Pembakaran lahan, baik disengaja maupun tidak, menjadi pemicu utama. Asap yang dihasilkan dapat menyebabkan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), mengganggu transportasi udara, dan merugikan sektor pertanian serta pariwisata.
- Dampak Lingkungan: Kerusakan ekosistem gambut dan keanekaragaman hayati.
- Dampak Kesehatan: Peningkatan kasus ISPA akibat kabut asap.
- Dampak Ekonomi: Gangguan aktivitas pertanian, transportasi, dan pariwisata.
- Dampak Sosial: Terganggunya aktivitas belajar mengajar dan kualitas hidup masyarakat.
Mengingat pengalaman pahit di tahun-tahun sebelumnya, di mana kabut asap tebal menyelimuti wilayah Sumsel dan sekitarnya, Gubernur Deru berharap tahun ini masyarakat dapat lebih proaktif. “Kita tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Gotong royong dan kesadaran dari setiap individu sangat diperlukan untuk mencegah dan menanggulangi karhutla,” ujarnya.
Gotong Royong sebagai Pilar Utama Mitigasi
Konsep gotong royong yang telah mengakar kuat dalam budaya bangsa Indonesia diangkat kembali oleh Gubernur sebagai strategi utama. Ini bukan hanya tentang bahu-membahu memadamkan api, tetapi juga mencakup langkah-langkah preventif. Masyarakat diharapkan dapat:
- Melakukan Pengawasan Mandiri: Aktif memantau lingkungan sekitar, terutama lahan kosong atau perkebunan yang rawan terbakar.
- Tidak Membakar Lahan: Menghindari praktik pembukaan lahan dengan cara membakar, sekecil apapun skalanya. Edukasi mengenai bahaya membakar lahan harus terus digalakkan di tingkat desa dan kelurahan.
- Membentuk Tim Siaga Bencana: Mengaktifkan kembali atau membentuk tim siaga karhutla di tingkat desa yang berkoordinasi dengan petugas Manggala Agni, TNI, dan Polri.
- Melaporkan Kejadian: Segera melaporkan jika melihat indikasi kebakaran atau aktivitas mencurigakan yang dapat memicu api kepada pihak berwenang.
Sinergi antara pemerintah daerah, aparat keamanan, dan masyarakat menjadi krusial. Pemerintah provinsi dan kabupaten/kota telah menyiapkan berbagai perangkat, mulai dari posko terpadu, peralatan pemadam, hingga patroli udara. Namun, tanpa dukungan penuh dari masyarakat, upaya-upaya tersebut tidak akan maksimal. Data dari BNPB menunjukkan bahwa pencegahan merupakan kunci efektivitas penanggulangan bencana karhutla.
Dimensi Spiritual Melalui Salat Istisqa
Selain upaya-upaya praktis, Gubernur Herman Deru juga mengajak masyarakat untuk memperbanyak doa. Salat Istisqa, salat khusus untuk memohon hujan, akan digelar secara serentak di berbagai wilayah Sumatera Selatan. Langkah ini bukan hanya sebagai bentuk kepasrahan kepada Tuhan Yang Maha Esa, tetapi juga sebagai sarana untuk memperkuat kebersamaan dan harapan kolektif di tengah kondisi yang penuh tantangan.
“Salat Istisqa adalah wujud ikhtiar spiritual kita. Kita berusaha semaksimal mungkin dengan cara-cara praktis, dan pada saat yang sama, kita memohon pertolongan dari Allah SWT agar hujan segera turun dan memadamkan potensi api serta menyuburkan kembali lahan-lahan kita,” jelas Herman Deru. Tradisi ini telah lama dilakukan di Indonesia saat menghadapi kekeringan panjang, mencerminkan perpaduan antara upaya duniawi dan spiritual dalam mengatasi krisis.
Tantangan Jangka Panjang dan Harapan Kedepan
Penanganan karhutla dan kemarau bukan hanya tugas musiman, melainkan membutuhkan strategi jangka panjang yang berkelanjutan. Edukasi masyarakat mengenai praktik pertanian tanpa bakar, restorasi lahan gambut, serta pengembangan sistem peringatan dini (early warning system) perlu terus diperkuat. Penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran lahan juga harus dilakukan secara tegas dan tanpa pandang bulu untuk menciptakan efek jera.
Herman Deru berharap, dengan semangat kebersamaan dan kepatuhan terhadap imbauan pemerintah, Sumatera Selatan dapat melewati musim kemarau tahun ini dengan minim dampak buruk. Keberhasilan dalam menghadapi tantangan ini akan sangat bergantung pada seberapa kuatnya solidaritas dan kesadaran seluruh warga dalam menjaga lingkungan.