(Foto: bbc.com)
Di ujung timur Pulau Madura, sebuah monumen sejarah yang megah berdiri tegak, memancarkan pesona arsitektur yang unik dan kaya makna. Masjid Jamik Sumenep, bukan sekadar tempat ibadah, melainkan sebuah narasi visual tentang persatuan dan akulturasi budaya yang telah terjalin ratusan tahun silam. Keistimewaan masjid ini terletak pada jejak arsitektur Tionghoa yang secara kasat mata menyatu harmonis dengan gaya lokal dan Islam, menciptakan simbol perdamaian yang relevan hingga masa kini.
Masjid bersejarah ini menantang pandangan konvensional tentang identitas arsitektur, menawarkan sebuah studi kasus menarik tentang bagaimana dua kebudayaan, yang secara geografis dan filosofis berbeda, dapat melebur dalam sebuah karya monumental. Para ahli sejarah dan arsitektur sepakat bahwa rancangan masjid yang diarsiteki oleh seorang Tionghoa di era lampau ini merupakan representasi nyata dari toleransi dan penerimaan masyarakat Madura terhadap elemen-elemen budaya asing, sekaligus pengukuhan identitas lokal yang adaptif. Fenomena akulturasi budaya semacam ini, seperti yang juga telah kami ulas dalam artikel sebelumnya mengenai percampuran budaya di kawasan pesisir Jawa, menunjukkan betapa dinamisnya interaksi sosial di Nusantara.
Sejarah Akulturasi di Jantung Sumenep
Pembangunan Masjid Jamik Sumenep terjadi pada akhir abad ke-18, tepatnya pada tahun 1779 Masehi, di bawah kepemimpinan Adipati Arya Natakusuma (Panembahan Somala), Raja Sumenep ke-31. Dalam proyek besar ini, sang Adipati mempercayakan arsitek dari etnis Tionghoa bernama Lauw Piango untuk merancang bangunan utama. Keputusan ini, pada masanya, adalah cerminan dari kebijakan terbuka dan hubungan baik antara Keraton Sumenep dengan komunitas Tionghoa yang saat itu sudah cukup banyak berinteraksi, terutama dalam bidang perdagangan, di wilayah tersebut. Keterlibatan arsitek Tionghoa ini bukan hanya menandai sebuah peristiwa konstruksi, tetapi juga menjadi saksi bisu jalinan kemitraan lintas etnis yang telah terbangun kokoh.
Periode tersebut memang menjadi era keemasan bagi Keraton Sumenep, di mana perkembangan kebudayaan dan toleransi sosial sangat ditekankan. Integrasi kebudayaan, khususnya dalam bentuk arsitektur, tidak semata-mata menjadi hiasan, melainkan sebuah pernyataan politik dan sosial yang kuat tentang penerimaan perbedaan. “Masjid Jamik Sumenep adalah artefak hidup yang menunjukkan bahwa persatuan dapat dibangun di atas fondasi keberagaman,” ujar Dr. Siti Khadijah, seorang sejarawan kebudayaan dari Universitas Pesisir Timur. “Ini adalah contoh nyata bagaimana identitas lokal justru diperkaya, bukan dilemahkan, oleh sentuhan budaya lain.” Untuk mendalami lebih lanjut tentang sejarah Sumenep dan keratonnya, Anda dapat mengunjungi situs resmi Pemerintah Kabupaten Sumenep.
Simbolisme Arsitektur Lintas Budaya yang Memukau
Keunikan arsitektur Masjid Jamik Sumenep terlihat dari berbagai elemen yang secara cerdik memadukan corak Tionghoa dengan nuansa Islam dan Madura. Beberapa ciri khas yang paling menonjol antara lain:
- Atap Tumpang Khas Nusantara dengan Sentuhan Cina: Bentuk atap limas bertingkat dua yang merupakan ciri khas masjid-masjid kuno di Jawa dan Madura, namun dengan detail ukiran dan warna yang seringkali mengingatkan pada kuil-kuil Tionghoa.
- Ornamen dan Ukiran: Pilar-pilar dan tiang masjid kerap dihiasi dengan motif-motif seperti naga, bunga teratai, atau pola geometris yang merupakan adaptasi dari seni ukir Tionghoa, dipadukan dengan kaligrafi Arab dan motif sulur-suluran khas Nusantara.
- Warna Cerah yang Dominan: Penggunaan warna-warna yang berani seperti merah, hijau, dan kuning emas, yang identik dengan estetika Tionghoa, memberikan kesan megah dan ceria pada bangunan, berbeda dengan warna kalem yang umumnya mendominasi bangunan Islam tradisional.
- Gerbang Utama dan Pintu Masuk: Desain gerbang yang seringkali menampilkan bentuk menyerupai gapura dengan ukiran rumit yang memadukan unsur flora dan fauna dengan simbol-simbol keberuntungan Tionghoa.
Penempatan elemen-elemen ini tidak dilakukan secara serampangan. Setiap detail diperhitungkan untuk menciptakan keseimbangan estetika dan filosofis. Integrasi ini mengirimkan pesan kuat tentang koeksistensi, bahwa perbedaan bukanlah penghalang untuk mencapai keindahan dan kesempurnaan. Para arsitek di masa itu berhasil mewujudkan sebuah mahakarya yang bukan hanya fungsional sebagai tempat ibadah, tetapi juga edukatif sebagai penanda sejarah kerukunan.
Harmoni yang Bertahan Lintas Generasi
Lebih dari dua abad setelah pembangunannya, Masjid Jamik Sumenep terus menjadi simbol hidup dari harmonisasi etnis Tionghoa dan Madura. Keberadaan masjid ini telah menginspirasi generasi demi generasi warga Sumenep untuk menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi dan saling menghargai. Hubungan antara kedua komunitas etnis ini di Sumenep dikenal sangat baik, tercermin dalam berbagai kegiatan sosial, budaya, dan bahkan perayaan hari besar keagamaan yang melibatkan kedua belah pihak. Masjid ini menjadi titik temu, bukan pemisah. “Setiap kali melihat Masjid Jamik, kami diingatkan bahwa perbedaan adalah kekuatan, bukan kelemahan,” tutur Bapak H. Rahman, seorang tokoh masyarakat setempat. “Nenek moyang kita sudah membuktikan bahwa kita bisa hidup berdampingan, dan itu menjadi warisan berharga bagi kami.”
Masjid Jamik Sumenep adalah pelajaran berharga tentang bagaimana arsitektur dapat melampaui fungsi utamanya dan menjadi media untuk menyampaikan pesan sosial yang mendalam. Keberadaan arsitek Tionghoa dalam perancangan masjid ini bukanlah anomali, melainkan bukti nyata dari sebuah peradaban yang matang dalam mengelola keberagaman. Bagi siapa pun yang mengunjungi Sumenep, masjid ini menawarkan lebih dari sekadar pemandangan indah; ia menyuguhkan sebuah pengalaman mendalam tentang sejarah, budaya, dan semangat persatuan yang abadi di tengah kemajemukan bangsa.