Ilustrasi peserta Latihan Bela Negara Kemhan yang berfokus pada wawasan kebangsaan dan kepemimpinan komunitas. (Foto: cnnindonesia.com)
Kemhan Hapus Materi Menembak dalam Latihan Bela Negara untuk Pengelola Koperasi Desa dan Nelayan
Kementerian Pertahanan (Kemhan) mengambil langkah strategis dengan menghapus materi pelatihan menembak dari kurikulum Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) yang kini bertransformasi menjadi Latihan Bela Negara. Perubahan kebijakan ini secara spesifik berlaku bagi calon pengelola atau manajer Koperasi Desa dan Nelayan Merah Putih, menandai pergeseran fokus yang signifikan dalam program pembekalan mereka. Keputusan ini menunjukkan adanya reorientasi dalam upaya Kemhan memperkuat ketahanan nasional melalui jalur non-militer, dengan menekankan aspek-aspek lain dari bela negara yang lebih relevan untuk peran sipil.
Sebelumnya, Latsarmil kerap diidentikkan dengan pelatihan fisik dan kemiliteran dasar, termasuk pengenalan senjata dan keterampilan menembak. Namun, penghapusan materi menembak untuk kelompok Koperasi Desa dan Nelayan ini mengindikasikan keinginan Kemhan untuk menyesuaikan konten latihan agar lebih kontekstual dengan tugas dan fungsi mereka di tengah masyarakat. Ini juga mencerminkan pemahaman yang lebih luas tentang bela negara, yang tidak semata-mata diukur dari kemampuan militer, melainkan juga dari kontribusi aktif dalam pembangunan dan ketahanan sosial-ekonomi.
Program Latihan Bela Negara bagi pengelola koperasi ini sejatinya merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk memperkuat struktur ekonomi di tingkat akar rumput, khususnya di sektor pedesaan dan kelautan. Dengan membekali para manajer koperasi ini dengan semangat bela negara, diharapkan mereka tidak hanya mampu mengelola usaha secara profesional tetapi juga memiliki kesadaran tinggi akan pentingnya menjaga keutuhan bangsa, memajukan daerah, dan berkontribusi pada ketahanan pangan serta ekonomi nasional. Transformasi kurikulum ini diperkirakan akan membuat pelatihan lebih inklusif dan relevan bagi peserta dari latar belakang non-militer.
Pergeseran Fokus Latihan Bela Negara
Perubahan nama dari Latsarmil menjadi Latihan Bela Negara, khususnya bagi kelompok manajer koperasi, bukan hanya sekadar pergantian nomenklatur. Ini merepresentasikan pergeseran filosofis dan praktis dalam pendekatan Kemhan. Latihan Bela Negara, menurut definisi Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Sumber Daya Nasional untuk Pertahanan Negara, mencakup berbagai aspek pengabdian warga negara yang tidak selalu bersifat fisik atau militer. Aspek-aspek ini termasuk:
- Mencintai tanah air
- Kesadaran berbangsa dan bernegara
- Yakin akan Pancasila sebagai ideologi negara
- Rela berkorban untuk bangsa dan negara
- Memiliki kemampuan awal bela negara, baik fisik maupun nonfisik
Dengan penghapusan materi menembak, Kemhan kemungkinan besar akan memperkuat modul-modul lain yang mendukung poin-poin tersebut, seperti materi tentang wawasan kebangsaan, kepemimpinan, manajemen konflik, integritas, dan pengembangan potensi daerah. Ini bertujuan untuk membentuk pemimpin koperasi yang tidak hanya kompeten secara manajerial, tetapi juga memiliki karakter kebangsaan yang kuat dan siap menghadapi tantangan zaman, baik yang bersifat ekonomi maupun sosial.
Alasan di Balik Penghapusan Materi Menembak
Keputusan untuk menghilangkan materi menembak bagi calon pengelola Koperasi Desa dan Nelayan ini dapat dilihat dari beberapa perspektif. Pertama, program ini memang ditujukan untuk warga sipil yang peran utamanya adalah mengelola ekonomi kerakyatan, bukan sebagai prajurit. Keterampilan menembak mungkin tidak secara langsung relevan dengan tugas harian mereka. Kedua, langkah ini bisa menjadi bagian dari upaya untuk ‘de-militarisasi’ program pelatihan bagi masyarakat sipil, sehingga menjadikannya lebih dapat diterima dan tidak menimbulkan persepsi yang keliru tentang tujuan utama pelatihan. Kemhan sendiri terus mengembangkan konsep Bela Negara yang inklusif, seperti yang dapat dilihat pada laman resminya di kemhan.go.id/bela-negara/, yang menekankan partisipasi masyarakat luas dalam berbagai bentuk.
Ketiga, fokus Kemhan mungkin bergeser ke pembangunan kapasitas non-fisik yang lebih krusial bagi para manajer koperasi. Ini termasuk kemampuan dalam inovasi, ketahanan pangan, pengelolaan sumber daya, serta membangun jaringan yang kuat di komunitas mereka. Dengan demikian, sumber daya pelatihan dapat dialokasikan lebih efektif untuk materi-materi yang secara langsung mendukung pengembangan koperasi dan kesejahteraan anggotanya. Langkah ini juga dapat mengurangi potensi risiko keselamatan yang terkait dengan pelatihan menembak, menjadikannya lebih aman dan nyaman bagi seluruh peserta.
Implikasi bagi Pengelola Koperasi dan Ketahanan Nasional
Perubahan kurikulum ini memiliki implikasi positif yang luas. Bagi para pengelola Koperasi Desa dan Nelayan, mereka akan menerima pelatihan yang lebih terfokus pada pengembangan kepemimpinan, etika kerja, serta wawasan kebangsaan yang mendalam, tanpa harus menguasai keterampilan militer yang mungkin tidak relevan. Ini akan membantu mereka menjadi agen perubahan yang efektif di komunitasnya, mendorong kemandirian ekonomi, dan memperkuat fondasi sosial.
Dari sisi ketahanan nasional, kebijakan ini menunjukkan bahwa Kemhan memandang peran koperasi sebagai pilar penting dalam mewujudkan ketahanan ekonomi dan sosial. Dengan membekali para pengelola koperasi dengan nilai-nilai bela negara, pemerintah berharap dapat menciptakan ekosistem masyarakat yang lebih tangguh, mandiri, dan siap menghadapi berbagai tantangan, baik dari dalam maupun luar negeri. Ini adalah contoh nyata bagaimana bela negara dapat diimplementasikan secara komprehensif, tidak hanya melalui kekuatan militer, tetapi juga melalui pemberdayaan masyarakat sipil yang kokoh dan berintegritas.
Ke depannya, sangat mungkin Kemhan akan terus mengevaluasi dan menyesuaikan program Latihan Bela Negara lainnya untuk berbagai segmen masyarakat, memastikan relevansi dan efektivitasnya dalam membangun kesadaran bela negara yang utuh dan berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan dan konteks masing-masing kelompok.