Seorang pengemudi ojek daring berjuang mencari nafkah di tengah kabut asap tebal, menggambarkan tantangan ganda yang dihadapi pekerja informal di wilayah terdampak. (Foto: bbc.com)
Krisis kabut asap kembali melanda sejumlah wilayah di Kalimantan dan Sumatra, memicu dampak ganda yang memilukan bagi sektor ekonomi informal. Ribuan pedagang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dan pengemudi ojek daring (ojol) melaporkan penurunan pendapatan yang sangat signifikan, bahkan hingga lebih dari separuh dari biasanya. Situasi ini diperparah dengan peningkatan biaya hidup dan risiko kesehatan yang terus membayangi, menciptakan tekanan berat yang tak hanya mengancam mata pencaharian, tetapi juga kesejahteraan dasar mereka. “Sesak napas, sakit kepala, tapi harus bekerja,” ujar seorang pekerja yang menggambarkan dilema pahit para pekerja informal yang tak punya pilihan selain terus berjuang di tengah kualitas udara yang memburuk.
Beban Ganda Pekerja Informal di Tengah Kabut Asap
Fenomena kabut asap secara langsung melumpuhkan aktivitas ekonomi di wilayah terdampak. Konsumen enggan keluar rumah, berdampak pada sepinya pasar, warung makan, dan toko kelontong. Bagi pedagang soto dan makanan lainnya, barang dagangan sering kali tidak habis terjual, menyebabkan kerugian besar. Di sisi lain, pengemudi ojek daring menghadapi penurunan drastis dalam pesanan, baik untuk layanan transportasi maupun pengiriman makanan, karena mobilitas masyarakat yang berkurang. Ini berarti, pendapatan harian mereka tergerus secara substansial, jauh di bawah angka yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan pokok.
Ironisnya, di saat pendapatan merosot, pengeluaran justru meningkat. Biaya kesehatan menjadi beban tambahan yang tak terhindarkan. Gangguan pernapasan akut (ISPA), sakit kepala, dan mata perih adalah keluhan umum yang memerlukan perhatian medis. Tanpa jaring pengaman sosial yang memadai, pekerja informal ini harus menanggung biaya pengobatan dari kantong sendiri, semakin menjepit kondisi finansial mereka. Kondisi ini menyoroti kerentanan mendalam sektor informal terhadap krisis lingkungan, di mana mereka menjadi garda terdepan yang paling terdampak.
Dampak Ekonomi yang Mengakar dan Berulang
Kabut asap bukan masalah insidental, melainkan ancaman kronis yang melanda Indonesia hampir setiap tahun. Dampak ekonomi yang ditimbulkannya pun bersifat sistemik dan berulang. Pada kejadian-kejadian sebelumnya, seperti krisis asap besar di tahun 2015 dan 2019, kerugian ekonomi nasional diperkirakan mencapai puluhan hingga ratusan triliun rupiah, meliputi sektor pariwisata, logistik, pertanian, dan kesehatan. Penurunan daya beli masyarakat secara keseluruhan, bukan hanya pada pekerja informal, juga menjadi konsekuensi yang tak terhindarkan. Kekhawatiran akan masa depan ekonomi regional terus menghantui jika masalah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sebagai penyebab utama kabut asap tidak tertangani secara komprehensif. Krisis ini mengingatkan kita akan kebutuhan mendesak untuk membangun ketahanan ekonomi yang lebih kuat terhadap guncangan lingkungan.
Pentingnya Adaptasi dan Intervensi Kebijakan
Menghadapi tantangan berulang ini, diperlukan respons yang tidak hanya reaktif, tetapi juga proaktif dan berkelanjutan. Berbagai langkah strategis harus diimplementasikan untuk melindungi pekerja informal dan ekonomi lokal:
*
Bantuan Darurat Terukur: Pemerintah perlu segera merumuskan dan menyalurkan skema bantuan langsung yang efektif dan tepat sasaran bagi UMKM dan pengemudi ojol yang terdampak. Bantuan ini dapat berupa subsidi, insentif, atau bantuan pangan untuk meringankan beban hidup mereka.
*
Edukasi dan Akses Kesehatan: Peningkatan sosialisasi mengenai pencegahan ISPA serta penyediaan fasilitas kesehatan gratis atau terjangkau sangat vital. Pembagian masker berkualitas tinggi secara cuma-cuma harus dilakukan secara masif.
*
Penegakan Hukum Tegas: Kebijakan anti-pembakaran lahan harus dijalankan secara konsisten, transparan, dan tanpa kompromi. Sanksi tegas bagi pelaku karhutla adalah kunci untuk memutus mata rantai bencana asap.
*
Pengembangan Ekonomi Berketahanan: Mendorong inovasi di kalangan UMKM agar mampu beradaptasi, misalnya dengan memanfaatkan platform digital untuk layanan pesan antar atau pemasaran online di tengah pembatasan mobilitas. Pelatihan dan pendampingan digitalisasi menjadi krusial.
*
Investasi Mitigasi Jangka Panjang: Upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan yang lebih serius, termasuk restorasi lahan gambut, patroli terpadu, dan pemberdayaan masyarakat adat dalam pengelolaan hutan. Selain itu, pemerintah juga perlu berinvestasi dalam penelitian dan pengembangan teknologi untuk memprediksi dan memitigasi dampak asap secara lebih efektif.
Menuju Ketahanan Ekonomi Berkelanjutan di Tengah Ancaman Asap
Situasi yang dihadapi UMKM dan ojol di wilayah terdampak kabut asap adalah cerminan dari tantangan struktural yang memerlukan perhatian serius dan solusi jangka panjang. Ini bukan hanya tentang melewati satu musim asap, tetapi membangun fondasi ekonomi dan sosial yang tangguh terhadap ancaman lingkungan yang terus-menerus. Diperlukan kolaborasi erat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, sektor swasta, dan masyarakat sipil untuk menciptakan ekosistem yang mendukung ketahanan ekonomi. Mendorong kesadaran lingkungan, memperkuat regulasi, dan memberdayakan komunitas adalah langkah esensial untuk memastikan bahwa ke depan, pekerja informal tidak lagi harus memilih antara kesehatan dan penghidupan mereka. Lebih jauh, dampak kabut asap juga berimplikasi pada kesehatan jangka panjang, sebagaimana analisis yang dilakukan oleh riset terbaru mengenai bahaya polusi udara, yang menegaskan urgensi penanganan masalah ini secara holistik.