Seorang peternak memantau kondisi kandang ayam petelur di tengah keresahan akibat anjloknya harga telur, mengancam keberlangsungan usahanya. (Foto: bbc.com)
Keresahan mendalam menyelimuti kalangan peternak telur di berbagai wilayah Indonesia. Selama dua bulan terakhir, mereka terus menghadapi tekanan berat akibat harga jual telur yang merosot tajam, jauh di bawah harga pokok produksi (HPP). Kondisi ini menciptakan ancaman serius terhadap kelangsungan usaha mereka, bahkan hingga berujung pada potensi gulung tikar. Keluhan paling mendasar yang kerap disuarakan adalah ketidakmampuan untuk menutupi biaya pakan dan gaji pegawai jika harga terus anjlok, sebuah alarm merah bagi sektor peternakan nasional.
Para peternak kecil hingga menengah mengaku telah menanggung kerugian signifikan secara konsisten. Mereka menyebutkan bahwa biaya operasional, terutama harga pakan yang dominan, tetap stabil di level tinggi, bahkan cenderung naik. Ketidakseimbangan antara pendapatan dan pengeluaran ini memicu krisis likuiditas yang membayangi ribuan keluarga peternak di seluruh negeri.
Ancaman Kerugian Akut dan Kelangsungan Usaha
Situasi saat ini telah mendorong banyak peternak ke ambang keputusasaan. Mereka terpaksa menjual telur di bawah HPP, yang rata-rata berkisar antara Rp20.000 hingga Rp22.000 per kilogram, sementara harga jual di pasar seringkali hanya mencapai Rp18.000-Rp19.000. Selisih harga yang negatif ini, jika terus berlanjut, akan mengikis modal usaha mereka dalam waktu singkat. Seorang peternak di Jawa Tengah mengungkapkan, “Jika harga telur anjlok lagi, kami tidak akan mampu membayar pakan ternak dan gaji karyawan. Ini bukan hanya soal rugi, tapi ancaman nyata untuk menutup usaha yang sudah kami rintis puluhan tahun.”
Dampak lanjutan dari anjloknya harga telur dan tingginya biaya produksi adalah terganggunya rantai pasok. Peternak kesulitan membeli bahan baku pakan yang mayoritas didominasi jagung, seringkali harus berutang atau mengurangi kualitas pakan yang diberikan. Hal ini berpotensi menurunkan kualitas dan kuantitas produksi telur di masa mendatang.
Beberapa poin penting dampak kerugian ini meliputi:
- Harga jual di bawah harga pokok produksi (HPP) selama lebih dari dua bulan.
- Kenaikan signifikan pada harga pakan, terutama jagung, serta obat-obatan dan bibit ayam.
- Ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) bagi para pegawai peternakan.
- Potensi kredit macet di bank atau lembaga keuangan yang menjadi sumber modal usaha.
- Penurunan daya beli peternak yang berdampak pada perekonomian daerah setempat.
Akar Permasalahan: Dinamika Harga dan Biaya Produksi
Permasalahan merosotnya harga telur ini tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan akumulasi dari beberapa faktor kompleks. Salah satu penyebab harga telur anjlok yang sering disorot adalah kelebihan pasokan di pasar, yang bisa diakibatkan oleh ekspansi peternakan yang tidak terkontrol atau masuknya telur dari wilayah lain tanpa pengaturan yang jelas. Di sisi lain, harga pakan ternak, khususnya jagung, terus melonjak. Harga jagung sebagai komponen utama pakan, menyumbang sekitar 60-70% dari total biaya produksi, sehingga setiap kenaikan harga jagung akan langsung memukul keuntungan peternak.
Merespons situasi yang tidak ideal bagi peternak, pemerintah diharapkan dapat segera merumuskan kebijakan stabilisasi harga telur yang lebih komprehensif. Kondisi ini mengingatkan pada krisis serupa pada tahun 2022, ketika harga pakan jagung juga melonjak drastis, memaksa pemerintah mengeluarkan kebijakan subsidi pakan sementara untuk menjaga kelangsungan usaha peternak kecil. Penting bagi pemerintah untuk belajar dari pengalaman masa lalu dan menerapkan solusi jangka panjang yang berkelanjutan.
Tuntutan Peternak dan Harapan Intervensi Pemerintah
Para peternak mendesak pemerintah untuk segera mengambil tindakan konkret. Mereka menuntut:
- Penetapan harga acuan atau harga dasar telur yang menjamin peternak tidak merugi.
- Subsidi pakan, terutama jagung, atau kemudahan akses pasokan jagung dengan harga stabil.
- Pengawasan ketat terhadap rantai distribusi untuk mencegah praktik kartel atau penimbunan.
- Pengaturan pasokan yang lebih baik agar tidak terjadi kelebihan produksi yang signifikan.
- Peningkatan kemudahan akses permodalan bagi peternak untuk menutupi biaya operasional jangka pendek.
Badan Pangan Nasional (Bapanas) dan Kementerian Pertanian menjadi pihak yang paling diharapkan dapat bergerak cepat. Keterlibatan aktif kedua lembaga ini krusial untuk menjaga stabilitas harga dan keberlangsungan sektor peternakan yang vital bagi ketahanan pangan nasional. Informasi lebih lanjut mengenai program stabilisasi harga pangan dapat diakses melalui situs resmi Badan Pangan Nasional.
Dampak Lebih Luas pada Ketahanan Pangan Nasional
Jika peternak terus merugi dan akhirnya menyerah, dampaknya akan merambat jauh lebih luas dari sekadar kerugian individu. Pasokan telur nasional akan terganggu, yang pada gilirannya dapat memicu lonjakan harga telur di kemudian hari ketika pasokan menipis. Hal ini akan membebani konsumen dan berpotensi memicu inflasi pangan. Selain itu, sektor peternakan juga merupakan sumber mata pencarian bagi jutaan orang, mulai dari peternak, pedagang pakan, distributor, hingga pedagang di pasar. Kegagalan sektor ini akan menciptakan gelombang pengangguran dan melumpuhkan ekonomi lokal di banyak daerah. Oleh karena itu, solusi harga telur murah yang merugikan peternak adalah ancaman serius bagi ketahanan pangan dan stabilitas ekonomi makro.
Pemerintah perlu melihat ini sebagai prioritas strategis untuk menjaga keseimbangan antara kepentingan produsen dan konsumen, serta memastikan keberlanjutan pasokan pangan yang sehat dan terjangkau bagi seluruh masyarakat.