Warga Lebanon mengamati kerusakan di sebuah desa di Lebanon selatan akibat eskalasi konflik di perbatasan Israel-Lebanon. (Foto: nytimes.com)
Pergeseran Sentimen di Lebanon Selatan
Situasi keamanan yang terus memburuk di perbatasan selatan Lebanon dengan Israel mendorong pergeseran signifikan dalam sentimen publik. Banyak warga Lebanon yang sebelumnya menyatakan frustrasi mendalam terhadap kelompok militan dan politik Hizbullah kini beralih mendukungnya, melihatnya sebagai satu-satunya entitas yang mampu memberikan perlindungan di tengah meningkatnya ketegangan dan dampak langsung dari konflik. Eskalasi ini merupakan bagian dari riak konflik yang lebih luas di kawasan, khususnya sejak pecahnya perang antara Israel dan Hamas di Jalur Gaza.
Selama bertahun-tahun, Hizbullah, yang merupakan aktor politik dan militer dominan di Lebanon, menghadapi gelombang kritik internal. Warga seringkali menyuarakan kekhawatiran tentang ‘negara di dalam negara’ yang dijalankan kelompok tersebut, pengaruhnya terhadap kebijakan luar negeri Lebanon, dan dampak negatifnya terhadap stabilitas ekonomi negara yang sudah rapuh. Keterlibatan Hizbullah dalam konflik regional, seperti di Suriah, juga menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat Lebanon yang menginginkan netralitas dan menghindari terjebak dalam perang proksi.
Mencari Perlindungan di Tengah Eskalasi Konflik
Namun, laporan terbaru mengindikasikan bahwa kemarahan dan kekecewaan publik tersebut kini mulai memudar, digantikan oleh rasa butuh akan perlindungan dan soliditas. Dengan gencatan senjata yang terus goyah dan Israel dilaporkan melakukan penghancuran desa-desa di wilayah selatan, masyarakat setempat merasa semakin rentan. Berbagai insiden lintas batas terus terjadi, memperparah rasa tidak aman dan memicu kekhawatiran akan konflik skala penuh.
Dalam kondisi genting ini, kemampuan militer dan retorika perlawanan Hizbullah mendadak terasa relevan dan menawarkan jaminan keamanan yang tidak dapat diberikan oleh negara Lebanon. Hizbullah secara konsisten memposisikan diri sebagai garis pertahanan utama Lebanon terhadap agresi Israel. Narasi ini, yang berakar pada sejarah panjang pendudukan Israel di Lebanon selatan dan serangkaian konflik, kembali menguat di tengah krisis saat ini. Bagi banyak warga di desa-desa perbatasan, keberadaan dan kesiapan tempur Hizbullah memberikan rasa aman yang vital di tengah ancaman nyata yang datang dari seberang perbatasan.
Poin-poin penting yang mendorong pergeseran dukungan ini meliputi:
- Ancaman Langsung Israel: Serangan dan penghancuran yang dilaporkan di desa-desa perbatasan menciptakan kebutuhan mendesak akan perlindungan.
- Kelemahan Negara: Ketidakmampuan pemerintah Lebanon untuk secara efektif melindungi warga di perbatasan menyoroti peran Hizbullah.
- Retorika Perlawanan Hizbullah: Narasi kelompok sebagai ‘pelindung kedaulatan’ kembali mendapatkan validitas di mata publik.
- Sejarah Konflik: Pengalaman masa lalu dengan Israel menguatkan pandangan bahwa Hizbullah adalah satu-satunya entitas yang siap menghadapi agresi.
Implikasi Jangka Panjang bagi Stabilitas Kawasan
Pergeseran sentimen ini memiliki implikasi besar, baik secara internal bagi Lebanon maupun bagi stabilitas regional. Pertama, ini secara signifikan memperkuat posisi Hizbullah di kancah politik Lebanon, bahkan mungkin membungkam suara-suara oposisi yang sebelumnya kritis. Legitimasi yang baru ditemukan ini dapat memberinya pengaruh lebih besar dalam pengambilan keputusan negara dan konsolidasi kekuasaannya.
Kedua, peningkatan dukungan publik dapat memberi legitimasi bagi tindakan Hizbullah, meningkatkan risiko eskalasi konflik yang lebih besar antara Israel dan Lebanon. Setiap keputusan untuk merespons serangan Israel atau melancarkan aksi ofensif dapat diterima lebih luas oleh populasi yang merasa terancam. Ketiga, konflik yang berkepanjangan memperparah krisis kemanusiaan di Lebanon selatan, dengan ribuan warga sipil mengungsi dan mata pencarian terganggu, menambah beban pada negara yang sudah dibebani oleh krisis ekonomi.
Kondisi ini juga secara tajam memperjelas tantangan berat yang dihadapi pemerintah Lebanon, yang secara tradisional kesulitan untuk mengklaim monopoli kekerasan atau menyediakan perlindungan keamanan yang memadai bagi warganya di wilayah perbatasan. Ketidakmampuan negara untuk mengisi kekosongan keamanan ini secara efektif terus menempatkan Hizbullah dalam posisi sentral sebagai penyedia keamanan utama, bahkan jika hal itu datang dengan mengorbankan kedaulatan negara dan potensi eskalasi konflik yang lebih besar.