Adna Yusri, pedagang sayur asal Lampung, bersyukur dapat menunaikan ibadah haji setelah dua dekade menabung. (Foto: cnnindonesia.com)
BANDAR LAMPUNG – Kisah inspiratif tentang ketekunan dan pengorbanan kembali datang dari seorang warga biasa yang membuktikan bahwa impian besar dapat seseorang wujudkan dengan niat dan disiplin kuat. Adna Yusri, seorang pedagang sayur berusia 58 tahun asal Lampung, kini bersiap menunaikan ibadah haji, sebuah cita-cita yang telah ia pupuk dan ia perjuangkan selama dua dekade.
Perjalanan Adna Yusri menuju Tanah Suci tidaklah mulus. Selama 20 tahun, ia dengan sabar menyisihkan sebagian kecil dari penghasilan hariannya sebagai pedagang sayur keliling. Kisahnya mencerminkan jutaan umat Muslim di Indonesia yang menganggap ibadah haji bukan sekadar perjalanan spiritual, tetapi juga puncak dari perjuangan hidup yang panjang.
Awal Mula Niat Suci dan Disiplin Menabung
Adna Yusri mengawali niatnya untuk berhaji ketika usianya masih menjelang 40 tahun. Dengan penghasilan pas-pasan dari menjual aneka sayuran di pasar tradisional dan permukiman warga, gagasan untuk mengumpulkan puluhan juta rupiah demi biaya haji banyak orang anggap sebagai mimpi di siang bolong. Namun, tekad Adna tak pernah goyah.
Setiap pagi buta, Adna sudah berkutat dengan tumpukan sayuran segar, menatanya rapi sebelum bergegas menjajakannya. Keuntungan yang ia dapatkan setiap hari tidak langsung ia habiskan. Ia memiliki target pribadi, berapa pun kecilnya, untuk ia sisihkan ke dalam celengan atau rekening khusus haji.
- Menyisihkan sebagian kecil keuntungan harian secara konsisten.
- Mencatat setiap pengeluaran untuk menghindari pemborosan.
- Fokus pada tujuan jangka panjang meski banyak godaan pengeluaran mendesak.
Disiplin finansial ketat ini ia terapkan tanpa henti, bahkan di tengah gejolak ekonomi, kenaikan harga bahan pokok, atau saat dagangannya kurang laris. Baginya, setiap rupiah yang ia sisihkan adalah investasi untuk masa depan spiritualnya.
Tantangan dan Pengorbanan Selama Dua Dekade
Menabung selama 20 tahun tentu bukan perkara mudah. Adna Yusri menghadapi berbagai tantangan, mulai dari inflasi yang menyebabkan biaya haji terus meningkat, kebutuhan keluarga yang mendesak, hingga godaan untuk menggunakan uang tabungan demi kepentingan lain. Namun, ia selalu memegang teguh komitmennya.
“Banyak yang bilang, ‘Ngapain nabung haji segitu lama, mending buat modal usaha atau kebutuhan lain.’ Tapi niat saya sudah bulat. Saya percaya, Allah akan mudahkan jalan bagi hamba-Nya yang bersungguh-sungguh,” ungkap Adna Yusri dalam sebuah wawancara. Kalimat ini menunjukkan betapa kuatnya keyakinan Adna.
Pengorbanan yang Adna lakukan juga tidak sedikit. Ia mungkin harus menunda keinginan pribadi atau bahkan mengurangi pengeluaran untuk kebutuhan sekunder demi memastikan tabungan hajinya tetap aman dan terus bertambah. Kisah ini mengajarkan kita tentang arti prioritas dan bagaimana sebuah keyakinan dapat menjadi sumber kekuatan tak terbatas.
Inspirasi bagi Lingkungan Sekitar dan Fenomena Haji di Indonesia
Kisah Adna Yusri telah menyebar dan menjadi sumber inspirasi bagi banyak orang di sekitarnya, terutama sesama pedagang kecil di Lampung. Ia membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang mutlak untuk mewujudkan impian spiritual yang besar. Banyak yang kini termotivasi untuk mengikuti jejaknya, memulai tabungan haji mereka sendiri, sekecil apa pun.
Fenomena menabung puluhan tahun demi ibadah haji bukanlah hal baru di Indonesia. Antrean haji yang panjang, bahkan bisa mencapai puluhan tahun di beberapa daerah, membuat persiapan finansial dan mental menjadi sangat krusial. Kisah-kisah seperti Adna Yusri ini sering muncul sebagai pengingat akan semangat juang masyarakat Indonesia dalam memenuhi rukun Islam kelima.
Seperti yang pernah kami ulas dalam artikel terkait mengenai biaya haji terbaru dan cara mendaftarnya, ketekunan adalah kunci. Cerita Adna menambah daftar panjang individu yang menunjukkan dedikasi luar biasa.
Mewujudkan Puncak Ibadah dan Harapan Setelah Haji
Kini, Adna Yusri siap merasakan momen suci yang ia impikan selama 20 tahun. Keberangkatannya ke Tanah Suci bukan hanya sekadar perjalanan fisik, tetapi juga puncak dari sebuah penantian panjang yang penuh doa dan harapan. Rasa syukur dan haru tak dapat ia sembunyikan dari wajahnya.
Setelah menunaikan ibadah haji, Adna berharap dapat menjadi haji yang mabrur dan membawa keberkahan bagi keluarga serta lingkungannya. Kisah ini menegaskan kembali bahwa dengan keuletan dan keyakinan, tidak ada impian yang terlalu tinggi untuk digapai, bahkan bagi seorang pedagang sayur yang gigih.