(Foto: kaltim.antaranews.com)
DPR Soroti Konservasi Sejarah di ANTARA: Komisi VII Puji Ruang Adam Malik yang Terawat
Sebuah delegasi dari Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI baru-baru ini melakukan kunjungan kerja ke kantor pusat Perum Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) ANTARA, yang dikenal sebagai ANTARA Heritage Center (AHC). Kunjungan ini, yang berlangsung pada Kamis, secara khusus menyoroti dan mengapresiasi kondisi Ruang Kerja Adam Malik yang masih terawat, lengkap dengan meja dan berbagai peninggalan bersejarah lainnya. Namun, di balik pujian atas konservasi fisik, kunjungan ini juga menegaskan kembali fungsi strategis ANTARA sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sekaligus penjaga warisan jurnalistik bangsa, dan menjadi bagian integral dari fungsi pengawasan DPR terhadap entitas-entitas negara.
Pujian terhadap Ruang Adam Malik bukan sekadar apresiasi simbolis. Ruangan tersebut merupakan saksi bisu sejarah perjalanan diplomasi dan jurnalisme Indonesia, mengingat Adam Malik adalah salah satu pendiri ANTARA dan tokoh penting dalam sejarah negara. Keterawatan artefak bersejarah ini menyiratkan komitmen ANTARA dalam melestarikan memori kolektif bangsa, sebuah aspek yang krusial di tengah derasnya arus informasi digital dan kecenderungan melupakan sejarah.
Fungsi Pengawasan dan Peran Strategis Komisi VII
Komisi VII DPR RI memiliki cakupan tugas yang luas, meliputi bidang energi, sumber daya mineral, perindustrian, penelitian dan pengembangan teknologi, serta lingkungan hidup. Namun, peran pengawasan mereka juga mencakup BUMN-BUMN yang berada di bawah lingkup kerjanya. Meskipun ANTARA tidak secara langsung beroperasi di sektor energi atau industri berat, sebagai BUMN di bawah Kementerian Komunikasi dan Informatika, ANTARA tetap menjadi objek pengawasan Komisi VII terkait tata kelola, kinerja, dan kontribusinya terhadap negara. Kunjungan ini dapat diinterpretasikan sebagai salah satu bentuk implementasi fungsi pengawasan tersebut, meskipun dalam konteks yang lebih bernuansa apresiasi budaya dan sejarah.
- Mandat Pengawasan BUMN: Komisi VII bertanggung jawab memastikan BUMN beroperasi secara efisien, transparan, dan akuntabel, serta memberikan kontribusi maksimal bagi pembangunan nasional.
- Penekanan pada Konservasi: Apresiasi terhadap Ruang Adam Malik menunjukkan bahwa fungsi pengawasan juga merambah aspek pelestarian aset dan warisan budaya dalam pengelolaan BUMN.
- Sinyal Dukungan: Kunjungan dan apresiasi dari parlemen bisa menjadi sinyal dukungan politik terhadap upaya ANTARA dalam menjaga perannya sebagai LKBN dan pusat informasi terpercaya.
ANTARA Heritage Center: Simbol Konservasi Sejarah Bangsa
ANTARA Heritage Center (AHC) adalah manifestasi nyata dari upaya ANTARA untuk tidak hanya menjadi penyedia berita terkini, tetapi juga penjaga memori kolektif bangsa. Di sinilah tersimpan jutaan arsip foto, berita, dan rekaman bersejarah yang menjadi saksi perjalanan Indonesia dari masa perjuangan hingga era modern. Ruang Adam Malik, dengan segala otentisitasnya, menjadi salah satu permata di AHC. Adam Malik adalah sosok yang tidak hanya dikenal sebagai salah satu pendiri ANTARA, tetapi juga sebagai Menteri Luar Negeri dan Wakil Presiden RI yang berperan besar dalam diplomasi Indonesia di kancah internasional. Keterawatan ruangannya menjadi bukti bahwa ANTARA menghargai fondasi yang telah dibangun oleh para pendirinya.
Konservasi seperti ini sangat penting. Di era disinformasi dan hoaks, lembaga seperti ANTARA yang memiliki sejarah panjang dan kredibilitas tinggi, serta menjaga arsip-arsip otentik, menjadi benteng informasi yang krusial. AHC tidak hanya museum, melainkan juga pusat studi dan referensi bagi generasi mendatang untuk memahami sejarah jurnalisme dan perkembangan bangsa.
Tantangan dan Harapan untuk ANTARA di Era Digital
Di tengah pujian atas konservasi sejarah, kunjungan Komisi VII ini secara implisit juga memunculkan pertanyaan tentang bagaimana ANTARA menghadapi tantangan di era digital. Sebagai kantor berita nasional, ANTARA harus terus berinovasi untuk tetap relevan dan kompetitif. Pelestarian fisik adalah satu hal, namun evolusi dalam penyajian berita dan jangkauan audiens adalah hal lain yang tak kalah penting. Apakah semangat pionir Adam Malik dalam jurnalisme juga terus dihidupkan melalui adaptasi teknologi dan strategi konten yang modern?
Kunjungan kerja ini seharusnya menjadi momentum bagi ANTARA untuk tidak hanya berbangga dengan warisan masa lalu, tetapi juga untuk merumuskan strategi masa depan yang lebih adaptif. Mengintegrasikan arsip sejarah ke dalam narasi berita kontemporer, memperkuat jurnalisme data, serta memperluas jangkauan melalui berbagai platform digital adalah beberapa langkah yang dapat diambil. Sebagai LKBN, ANTARA memiliki tanggung jawab besar untuk terus menjadi sumber informasi yang akurat, berimbang, dan berwawasan kebangsaan.
Kunjungan Komisi VII DPR RI ke ANTARA Heritage Center lebih dari sekadar apresiasi fisik terhadap Ruang Adam Malik. Ini adalah pengingat akan pentingnya menjaga warisan sejarah, memastikan akuntabilitas BUMN, dan mendorong inovasi di tengah lanskap media yang terus berubah. ANTARA, dengan sejarah panjangnya, memiliki potensi besar untuk terus menjadi pilar jurnalisme Indonesia, selama mampu menyeimbangkan penghormatan terhadap masa lalu dengan adaptasi terhadap tuntutan masa kini dan masa depan.