Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad saat menyampaikan apresiasi terhadap langkah Bank Indonesia dalam memperkuat Rupiah tanpa Dolar AS melalui kerjasama bilateral. (Foto: news.detik.com)
Wakil Ketua DPR Dasco Dukung Penuh Inisiatif BI Perkuat Rupiah Tanpa Dolar AS dengan China
Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Sufmi Dasco Ahmad memberikan apresiasi tinggi terhadap langkah strategis Bank Indonesia (BI) yang berkolaborasi dengan People’s Bank of China (PBoC) melalui Kerjasama Bilateral Currency Swap Arrangement (BCSA). Inisiatif ini bertujuan krusial untuk memperkuat nilai tukar Rupiah sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) dalam transaksi perdagangan dan investasi.
Dasco menekankan bahwa langkah ini bukan hanya sekadar diversifikasi mata uang, melainkan sebuah fondasi penting dalam membangun ketahanan ekonomi nasional yang lebih mandiri. Dukungan penuh dari parlemen menjadi sinyal kuat bahwa upaya de-dolarisasi merupakan agenda prioritas yang memerlukan sinergi dari berbagai pihak.
“Kami di DPR sangat mengapresiasi terobosan yang dilakukan Bank Indonesia bersama People’s Bank of China. Ini adalah langkah maju yang signifikan untuk stabilitas Rupiah dan kemandirian ekonomi kita,” ujar Dasco, merujuk pada pentingnya kerjasama ini dalam menghadapi dinamika ekonomi global yang semakin kompleks.
Mengapa Ketergantungan Dolar AS Perlu Dikurangi?
Ketergantungan yang berlebihan pada Dolar AS telah lama menjadi sorotan, terutama bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia. Fluktuasi nilai tukar Dolar AS seringkali berdampak langsung pada stabilitas ekonomi domestik, memengaruhi harga impor, laju inflasi, hingga beban utang luar negeri. Oleh karena itu, langkah-langkah de-dolarisasi menjadi vital untuk menciptakan buffer atau bantalan pengaman ekonomi.
Dasco menyoroti bahwa diversifikasi mata uang dalam transaksi bilateral dapat memberikan beberapa manfaat kunci, di antaranya:
- Mengurangi volatilitas nilai tukar Rupiah yang sering terpengaruh sentimen pasar global terkait Dolar AS.
- Meningkatkan efisiensi biaya transaksi perdagangan dan investasi karena tidak perlu lagi melalui Dolar AS sebagai mata uang perantara.
- Memperkuat kedaulatan moneter Indonesia dalam mengelola kebijakan ekonominya tanpa terlalu terbebani oleh gejolak eksternal.
- Mendorong pertumbuhan perdagangan bilateral dengan mitra strategis seperti Tiongkok, yang merupakan salah satu mitra dagang terbesar Indonesia.
Upaya mengurangi ketergantungan Dolar AS ini sejatinya bukanlah hal baru. Bank Indonesia telah gencar mendorong implementasi Local Currency Transaction (LCT) atau transaksi mata uang lokal dengan beberapa negara mitra seperti Malaysia, Thailand, Jepang, dan juga Tiongkok. Kerjasama BCSA ini melengkapi dan memperkuat kerangka LCT yang sudah ada, memastikan ketersediaan likuiditas mata uang lokal yang memadai untuk memfasilitasi transaksi.
Mekanisme dan Manfaat Kerjasama Bilateral Currency Swap Arrangement (BCSA)
Kerjasama BCSA merupakan perjanjian antara dua bank sentral untuk menukar mata uang mereka sendiri dalam jumlah yang telah disepakati sebelumnya. Dalam konteks ini, BI dan PBoC sepakat untuk menyediakan likuiditas dalam Rupiah dan Yuan, yang dapat digunakan untuk memfasilitasi perdagangan bilateral dan investasi langsung antara kedua negara tanpa harus mengonversi ke Dolar AS terlebih dahulu.
Manfaat utama dari BCSA meliputi:
- Stabilitas Keuangan: Menyediakan jaring pengaman likuiditas yang dapat digunakan di saat krisis atau gejolak pasar keuangan, sehingga mengurangi risiko krisis neraca pembayaran.
- Efisiensi Transaksi: Memangkas biaya konversi mata uang dan risiko nilai tukar yang terkait dengan penggunaan Dolar AS, sehingga transaksi ekspor-impor menjadi lebih murah dan cepat.
- Mendorong Perdagangan dan Investasi: Dengan ketersediaan mata uang lokal yang lebih mudah diakses, pelaku usaha di kedua negara akan lebih termotivasi untuk meningkatkan volume perdagangan dan investasi langsung.
- Diversifikasi Cadangan Devisa: Secara tidak langsung, perjanjian ini juga berkontribusi pada diversifikasi cadangan devisa, meski fungsinya lebih kepada fasilitas likuiditas.
Dasco berharap, dengan adanya kerjasama ini, nilai tukar Rupiah akan semakin stabil dan tidak mudah terguncang oleh sentimen global yang berkaitan dengan Dolar AS. Hal ini pada akhirnya akan memberikan kepastian lebih bagi para pelaku usaha dan investor di Indonesia, serta mendukung iklim investasi yang kondusif.
Prospek Penguatan Rupiah dan Peran DPR
Langkah BI ini sejalan dengan visi pemerintah untuk membangun ekonomi yang lebih resilien dan adaptif terhadap perubahan global. Penguatan Rupiah melalui mekanisme bilateral diharapkan dapat menjadi salah satu pilar utama dalam mencapai stabilitas makroekonomi jangka panjang. Peran DPR, seperti yang disampaikan Dasco, adalah untuk terus mendukung dan mengawasi implementasi kebijakan-kebijakan strategis semacam ini, memastikan bahwa manfaatnya dapat dirasakan secara optimal oleh seluruh lapisan masyarakat.
Kerjasama dengan Tiongkok ini juga dapat menjadi model bagi Indonesia untuk mengembangkan skema serupa dengan mitra dagang utama lainnya. Semakin banyak transaksi yang difasilitasi dengan mata uang lokal, semakin kecil pula risiko yang dihadapi Rupiah dari volatilitas mata uang global. Dengan demikian, penguatan Rupiah bukan hanya menjadi tanggung jawab Bank Indonesia, tetapi juga komitmen bersama pemerintah dan lembaga legislatif untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Informasi lebih lanjut mengenai inisiatif penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral dapat ditemukan pada situs resmi Bank Indonesia. [Link ke Bank Indonesia tentang LCT](https://www.bi.go.id/id/area/sssk/Pages/Penggunaan-Mata-Uang-Lokal-Dalam-Transaksi-Bilateral-(LCT).aspx)