Keluarga Alumni Unsoed menyuarakan tuntutan audit penerimaan mahasiswa baru setelah penangkapan Rektor Akhmad Sodiq oleh KPK atas dugaan korupsi. (Foto: cnnindonesia.com)
PURWOKERTO – Keluarga Alumni Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) secara tegas mendesak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk melakukan audit menyeluruh, evaluasi komprehensif, dan reformasi fundamental terhadap tata kelola penerimaan mahasiswa baru di kampus tersebut. Tuntutan ini muncul menyusul Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang dilakukan KPK terhadap Rektor Unsoed, Akhmad Sodiq, atas dugaan praktik korupsi. Insiden ini sontak memicu gelombang kekhawatiran serius mengenai integritas dan transparansi proses seleksi mahasiswa di salah satu perguruan tinggi negeri terkemuka di Indonesia.
Penangkapan Rektor Sodiq oleh KPK pada pertengahan bulan lalu menjadi pemicu utama bagi para alumni untuk mempertanyakan kembali seluruh mekanisme yang berlaku. Dugaan korupsi yang menyelimuti jabatan tertinggi di universitas tersebut secara langsung mencoreng citra institusi dan menimbulkan keraguan publik terhadap keadilan serta objektivitas dalam setiap proses administrasi, termasuk penerimaan mahasiswa baru.
Tuntutan Audit Menyeluruh dari Alumni
Keluarga Alumni Unsoed tidak hanya berhenti pada desakan audit, tetapi juga merinci cakupan evaluasi yang diharapkan. Mereka percaya bahwa audit harus dilakukan secara mendalam, mencakup setiap aspek penerimaan mahasiswa baru, mulai dari jalur seleksi, kriteria penilaian, hingga potensi intervensi pihak-pihak tertentu. Tuntutan ini beralasan kuat, mengingat penerimaan mahasiswa baru adalah gerbang utama bagi calon pemimpin bangsa, dan prosesnya harus steril dari praktik KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme).
- Audit Transparansi: Memastikan seluruh proses seleksi, termasuk jalur mandiri, transparan dan dapat diakses publik.
- Evaluasi Kriteria Penerimaan: Meninjau kembali bobot dan objektivitas kriteria yang digunakan, agar tidak ada celah untuk manipulasi.
- Investigasi Dugaan Suap/Pungli: Mengungkap potensi praktik suap atau pungutan liar dalam proses penerimaan yang mungkin terjadi secara tersembunyi.
- Pemetaan Risiko Korupsi: Mengidentifikasi titik-titik rawan korupsi dalam sistem penerimaan mahasiswa baru.
Desakan ini merupakan kelanjutan dari berita penangkapan Rektor Unsoed sebelumnya, yang secara langsung mengindikasikan adanya masalah struktural dalam tata kelola universitas. Alumni melihat bahwa kejadian tersebut bukan sekadar kasus personal, melainkan gejala dari sistem yang rentan terhadap penyimpangan.
Implikasi Penangkapan Rektor Terhadap Reputasi Kampus
Penangkapan seorang rektor oleh lembaga anti-korupsi tentu membawa dampak besar pada reputasi dan kepercayaan publik terhadap Unsoed. Kasus ini menyoroti urgensi untuk membangun sistem yang lebih kokoh dan tidak bergantung pada integritas individu semata. Kepercayaan masyarakat, khususnya calon mahasiswa dan orang tua, menjadi taruhan utama yang harus segera dipulihkan. Universitas memiliki tanggung jawab moral dan etis untuk menjamin bahwa setiap mahasiswa yang diterima adalah berdasarkan meritokrasi dan bukan melalui jalan pintas yang merusak prinsip keadilan.
Peristiwa ini juga menjadi momentum krusial bagi seluruh civitas akademika Unsoed untuk merefleksikan kembali nilai-nilai luhur Tri Dharma Perguruan Tinggi. Integritas dan akuntabilitas harus menjadi landasan utama dalam setiap kebijakan dan operasional kampus. Tanpa pembenahan fundamental, bayang-bayang kasus korupsi akan terus menghantui dan meruntuhkan kredibilitas akademik yang telah dibangun selama puluhan tahun.
Mendesak Reformasi Tata Kelola Universitas
Lebih dari sekadar audit, Keluarga Alumni Unsoed menuntut adanya reformasi tata kelola yang menyeluruh dan berkelanjutan. Reformasi ini harus mencakup tidak hanya penerimaan mahasiswa baru, tetapi juga proses pengadaan barang dan jasa, pengelolaan keuangan, serta sistem promosi jabatan di lingkungan universitas. Tujuannya adalah menciptakan ekosistem akademik yang bersih, transparan, dan akuntabel.
Pemerintah, melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, juga memikul tanggung jawab besar untuk memastikan bahwa insiden serupa tidak terulang di perguruan tinggi lain. Pengawasan yang lebih ketat dan sistem sanksi yang tegas perlu diterapkan untuk mencegah praktik-praktik koruptif menyebar dan merusak masa depan pendidikan tinggi Indonesia.
Keluarga Alumni Unsoed berharap, melalui desakan ini, pihak berwenang dapat mengambil langkah-langkah konkret yang tidak hanya menyelesaikan kasus per kasus, tetapi juga membangun sistem pencegahan yang efektif. Harapan besar terletak pada terciptanya Unsoed yang lebih baik, lebih transparan, dan berintegritas tinggi, menjamin bahwa setiap individu memiliki kesempatan yang sama untuk meraih pendidikan berkualitas tanpa adanya intervensi yang tidak etis. Desakan ini menegaskan peran krusial alumni sebagai penjaga marwah dan integritas almamater.