COO Danantara, Dony Oskaria, memberikan respons terhadap peringatan risiko ekspor satu pintu oleh S&P dan Moody's. (Foto: finance.detik.com)
Danantara Tegas Bantah Kekhawatiran S&P dan Moody’s atas Sistem Ekspor SDA Lewat DSI
Direktur Utama (COO) Danantara, Dony Oskaria, angkat bicara menanggapi peringatan dari dua lembaga pemeringkat kredit global terkemuka, S&P Global Ratings dan Moody’s Investors Service. Kedua lembaga tersebut menyuarakan kekhawatiran mereka terkait potensi risiko yang timbul dari penerapan sistem ekspor sumber daya alam (SDA) satu pintu melalui platform Digitalisasi Sistem Informasi (DSI). Dony Oskaria dengan tegas menepis kekhawatiran tersebut, menyatakan bahwa DSI justru dirancang untuk mengoptimalkan penerimaan negara dan meningkatkan efisiensi tata kelola ekspor.
Pernyataan Dony ini muncul sebagai respons langsung terhadap analisis S&P dan Moody’s yang menyoroti kemungkinan distorsi pasar, kurangnya transparansi, dan potensi praktik monopoli yang dapat memengaruhi iklim investasi serta peringkat utang Indonesia. Menurut Dony, pandangan tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan tujuan dan mekanisme operasional DSI yang sebenarnya. Ia menekankan bahwa sistem DSI berfokus pada standardisasi, pengawasan yang lebih ketat, dan pemberian nilai tambah bagi komoditas ekspor nasional.
Membedah Kekhawatiran Lembaga Pemeringkat Kredit
S&P dan Moody’s, sebagai penilai independen terhadap kelayakan kredit suatu negara atau entitas bisnis, memiliki fokus utama pada stabilitas makroekonomi, transparansi kebijakan, dan efisiensi pasar. Peringatan mereka mengenai sistem ekspor satu pintu melalui DSI kemungkinan besar didasari oleh beberapa pertimbangan kritis:
- Potensi Distorsi Pasar: Sistem satu pintu dikhawatirkan dapat mengurangi kompetisi, menciptakan monopoli atau oligopoli, yang pada akhirnya bisa memengaruhi penetapan harga dan alokasi sumber daya secara tidak efisien.
- Risiko Tata Kelola dan Korupsi: Konsentrasi kekuasaan pada satu entitas atau sistem dapat meningkatkan risiko penyalahgunaan wewenang, kurangnya akuntabilitas, dan praktik korupsi, yang berdampak negatif pada persepsi investor.
- Dampak terhadap Peringkat Utang: Jika sistem ini dianggap mengurangi prediktabilitas kebijakan, menciptakan ketidakpastian regulasi, atau merugikan iklim bisnis, hal tersebut dapat memicu revisi peringkat utang negara menjadi negatif, yang berarti biaya pinjaman lebih tinggi bagi pemerintah dan korporasi.
- Ketergantungan Berlebihan: Adanya satu gerbang ekspor berpotensi membuat negara terlalu bergantung pada satu sistem atau entitas, meningkatkan kerentanan terhadap gangguan operasional atau perubahan kebijakan mendadak.
Kekhawatiran ini bukanlah hal baru dalam konteks pengelolaan sumber daya alam di banyak negara berkembang, termasuk Indonesia. Isu mengenai nasionalisme sumber daya dan upaya meningkatkan nilai tambah domestik seringkali berbenturan dengan prinsip pasar bebas dan efisiensi yang ditekankan oleh lembaga pemeringkat global.
Argumentasi Balik dari Danantara dan Dony Oskaria
Dalam responsnya, Dony Oskaria memaparkan sejumlah argumen untuk membantah pandangan negatif S&P dan Moody’s. Menurutnya, DSI bukanlah instrumen untuk membatasi pasar, melainkan sebuah platform digital yang:
- Meningkatkan Pengawasan dan Penelusuran: DSI memungkinkan pemerintah untuk memantau aliran ekspor SDA secara lebih akurat dan real-time, meminimalkan penyelundupan dan kebocoran pendapatan negara.
- Mengoptimalkan Penerimaan Negara: Dengan data yang lebih terintegrasi dan transparan, pemerintah dapat memastikan royalti dan pajak dari ekspor SDA dibayarkan secara penuh dan akurat, menghindari praktik under-invoicing.
- Standardisasi Prosedur Ekspor: Sistem satu pintu ini bertujuan menyederhanakan birokrasi, mengurangi kompleksitas perizinan, dan mempercepat proses ekspor, yang pada akhirnya meningkatkan daya saing logistik.
- Mendorong Nilai Tambah Domestik: Dony mengklaim DSI akan mendorong industri pengolahan dalam negeri dengan memprioritaskan ekspor komoditas yang telah melewati proses hilirisasi, sejalan dengan visi pemerintah untuk meningkatkan nilai tambah.
- Mengurangi Volatilitas Harga: Dengan adanya koordinasi dan data yang terpusat, DSI diharapkan dapat membantu pemerintah dalam strategi penetapan harga ekspor yang lebih stabil dan menguntungkan di pasar global.
Dony Oskaria juga menegaskan bahwa DSI dibangun dengan kerangka tata kelola yang kuat dan transparan, melibatkan berbagai pemangku kepentingan untuk memastikan tidak ada praktik monopoli atau penyalahgunaan. Ia mengundang S&P dan Moody’s untuk berdialog langsung dan memahami lebih dalam mekanisme DSI sebelum menarik kesimpulan.
Implikasi Terhadap Iklim Investasi dan Ekonomi Nasional
Debat antara Danantara dan lembaga pemeringkat kredit ini menyoroti dilema yang dihadapi banyak negara berkembang: bagaimana menyeimbangkan antara kedaulatan ekonomi, optimalisasi pendapatan negara dari sumber daya alam, dan menjaga kepercayaan investor internasional. Peringatan dari S&P dan Moody’s, meskipun dibantah, tetap berpotensi memengaruhi persepsi investor terhadap stabilitas kebijakan di Indonesia.
Pemerintah Indonesia, melalui Danantara, harus mampu mengkomunikasikan secara jelas dan meyakinkan bahwa sistem DSI dirancang untuk meningkatkan efisiensi dan transparansi, bukan malah sebaliknya. Kejelasan regulasi, implementasi yang konsisten, dan komitmen terhadap tata kelola yang baik akan menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan investor dan memastikan kebijakan ekspor SDA yang berkelanjutan. Kegagalan dalam meyakinkan pasar global bisa berakibat pada penurunan investasi di sektor SDA dan peningkatan biaya modal bagi entitas Indonesia di pasar internasional.