Duta Besar Iran, Boroujerdi, menyampaikan pandangannya mengenai isu perpecahan Sunni-Syiah di Timur Tengah yang disebutnya sebagai rekayasa Zionis. (Foto: cnnindonesia.com)
Dubes Iran Tegaskan Isu Perpecahan Sunni-Syiah Rekayasa Zionis
Duta Besar Republik Islam Iran, Boroujerdi, baru-baru ini mengeluarkan pernyataan yang cukup provokatif, menegaskan bahwa narasi perpecahan mazhab antara Sunni dan Syiah di kawasan Timur Tengah bukanlah konflik alami, melainkan sebuah rekayasa yang diciptakan oleh entitas Zionis. Klaim ini muncul di tengah ketegangan geopolitik yang tak kunjung mereda, menyoroti upaya Iran dalam membingkai isu-isu regional dari sudut pandang yang berbeda. Pernyataan Boroujerdi ini tidak hanya menyoroti dugaan motif pihak eksternal, tetapi juga mencoba menggeser fokus dari perbedaan internal menuju ancaman yang dianggap bersama, yakni destabilisasi yang diorkestrasi pihak luar.
Menurut Boroujerdi, isu perpecahan mazhab ini sengaja digulirkan untuk melemahkan persatuan umat Islam dan menciptakan destabilisasi di kawasan. Ia menjelaskan, wilayah barat dan timur Iran sendiri, yang mayoritas dihuni oleh masyarakat Ahlusunah (Sunni), hidup berdampingan secara harmonis dengan komunitas Syiah yang juga ada di sana. Gambaran ini, menurutnya, membuktikan bahwa perbedaan mazhab bukanlah akar perpecahan yang inheren, melainkan upaya propaganda untuk memecah belah dan menguasai.
Latar Belakang Klaim dan Realitas Demografi Iran
Klaim Duta Besar Boroujerdi mengenai rekayasa isu perpecahan Sunni-Syiah oleh Zionis merupakan bagian dari narasi yang telah lama diusung oleh Teheran. Iran, sebagai negara dengan mayoritas Syiah, seringkali menghadapi kritik dan tuduhan sebagai pemicu ketegangan sektarian di beberapa titik konflik di Timur Tengah. Dengan menuding pihak eksternal—dalam hal ini Zionis—sebagai dalang di balik perpecahan, Iran berupaya mengubah fokus perdebatan, dari tanggung jawab internal menjadi ancaman bersama yang berasal dari luar. Narasi ini juga bertujuan untuk menggalang solidaritas umat Muslim di bawah satu bendera perlawanan terhadap musuh bersama yang dianggap mencoba memanipulasi identitas keagamaan demi kepentingan geopolitiknya.
Boroujerdi secara khusus menyoroti kondisi demografi di Iran sebagai bukti tesisnya. Ia menjelaskan bahwa di wilayah barat dan timur Iran, meskipun mayoritas penduduknya menganut mazhab Sunni, terdapat juga komunitas Syiah yang hidup berdampingan. Realitas ini, menurut pihak Iran, menunjukkan bahwa perbedaan mazhab secara inheren tidak memicu konflik, melainkan kerukunan dapat terjalin jika tidak ada campur tangan eksternal yang memprovokasi. Penekanan pada koeksistensi internal ini bertujuan untuk menggambarkan Iran sebagai model persatuan di tengah keragaman, sekaligus membantah narasi yang menyudutkan Iran sebagai pemicu konflik sektarian di wilayah tersebut.
- Keragaman Demografi Iran: Iran, meskipun dikenal sebagai negara Syiah, memiliki minoritas Sunni yang signifikan, terutama di provinsi seperti Sistan dan Baluchistan di timur, serta Kurdistan dan Kermanshah di barat. Wilayah-wilayah ini menjadi contoh nyata koeksistensi antar-mazhab.
- Narasi Persatuan Internal: Pemerintah Iran secara konsisten menekankan pentingnya persatuan di antara berbagai mazhab dan etnis di dalam negeri, sebagai pilar kekuatan nasional.
- Tuduhan Campur Tangan Eksternal: Menyalahkan pihak eksternal, khususnya ‘Zionis’ atau ‘imperialis’, merupakan taktik komunikasi strategis Iran untuk membela diri dari kritik dan menyatukan basis pendukungnya di dalam maupun di luar negeri.
Geopolitik Timur Tengah dan Implikasi Klaim Iran
Pernyataan Duta Besar Boroujerdi tidak bisa dilepaskan dari konteks geopolitik Timur Tengah yang sangat kompleks dan penuh rivalitas. Rivalitas antara Iran (yang mayoritas Syiah) dan beberapa negara Arab Teluk (yang mayoritas Sunni), seperti Arab Saudi, telah memanaskan berbagai konflik proksi di Yaman, Suriah, Irak, dan Lebanon. Dalam narasi Iran, entitas Zionis dan sekutunya sering digambarkan sebagai aktor yang sengaja mengobarkan api sektarianisme demi kepentingan strategis mereka di kawasan, termasuk melemahkan negara-negara Muslim yang berpotensi menjadi kekuatan penentang Israel.
Klaim semacam ini memiliki beberapa implikasi penting dalam arena geopolitik regional:
- Pengalihan Fokus Kritikan: Mengalihkan perhatian dari peran Iran dalam konflik regional dan persaingan kekuasaan, dengan memposisikan Iran sebagai korban atau pembela persatuan.
- Seruan Persatuan Islam: Mengajak umat Islam dari berbagai mazhab untuk bersatu melawan musuh yang dianggap bersama, yaitu kekuatan ‘Zionis’ dan ‘imperialis’, untuk melawan upaya destabilisasi.
- Delegitimasi Lawan: Membangun narasi bahwa lawan-lawan Iran, termasuk Israel, adalah dalang di balik perpecahan umat, sehingga mengurangi legitimasi tindakan dan klaim mereka.
- Peningkatan Solidaritas Internal: Memperkuat dukungan domestik dan regional terhadap kebijakan luar negeri Iran yang anti-Zionis.
Pernyataan ini mengemuka di tengah seruan global untuk perdamaian di kawasan, sejalan dengan analisis kami sebelumnya mengenai Dampak Rivalitas Regional Terhadap Konflik di Timur Tengah. Memahami klaim ini memerlukan analisis mendalam tentang sejarah konflik, dinamika internal setiap negara, serta peran kekuatan regional dan internasional.
Analisis Kritis Terhadap Klaim Boroujerdi
Meskipun klaim Boroujerdi menyuarakan perspektif penting dari Teheran, analisis kritis menunjukkan bahwa akar masalah perpecahan mazhab Sunni-Syiah di Timur Tengah jauh lebih kompleks dari sekadar rekayasa tunggal. Perbedaan teologis dan historis antara kedua mazhab telah ada selama berabad-abad, meskipun intensitas konflik politik yang berbasis sektarianisme memang meningkat drastis dalam beberapa dekade terakhir. Memisahkan dimensi teologis dari dimensi politik adalah kunci untuk memahami kompleksitas ini.
Tentu, tidak dapat dipungkiri bahwa kekuatan eksternal, termasuk Amerika Serikat, Israel, atau bahkan kekuatan regional lainnya, memiliki kepentingan dalam dinamika Timur Tengah dan mungkin saja mengeksploitasi perbedaan yang sudah ada. Namun, menyatakan bahwa seluruh isu perpecahan adalah ‘buatan Zionis’ sepenuhnya mungkin terlalu menyederhanakan masalah yang memiliki banyak lapisan. Faktor-faktor internal seperti tata kelola yang buruk, perebutan kekuasaan, isu etnis, aspirasi politik yang tidak terpenuhi, serta interpretasi agama yang ekstrem juga memainkan peran krusial dalam memicu dan memperparah konflik di berbagai negara.
Sebagai editor senior, penting untuk melihat narasi ini sebagai bagian dari perang informasi yang lebih besar di Timur Tengah. Setiap aktor regional berupaya membangun narasi yang menguntungkan posisinya dan mendiskreditkan lawan. Klaim Boroujerdi berfungsi sebagai alat diplomatik dan propaganda untuk menyatukan umat Muslim di bawah bendera perlawanan terhadap apa yang dianggap sebagai ancaman eksternal, sekaligus menangkis kritik atas kebijakan regional Iran. Pemahaman yang komprehensif membutuhkan peninjauan terhadap berbagai sudut pandang dan pengakuan akan kompleksitas sejarah dan politik yang membentuk realitas di kawasan tersebut, bukan sekadar menerima klaim sepihak tanpa verifikasi mendalam.