Seorang penyintas banjir menunjukkan sisa-sisa kerusakan di rumahnya, lambang keprihatinan Idulfitri di Aceh Tengah dan Pidie Jaya. (Foto: bbc.com)
ACEH TENGAH DAN PIDIE JAYA – Perayaan Idulfitri di sejumlah wilayah terdampak bencana alam kerap menyisakan keprihatinan mendalam, tak terkecuali bagi para penyintas banjir dan longsor di Aceh Tengah dan Pidie Jaya. Di tengah sukacita hari raya, dua keluarga korban bencana ini memaknai Idulfitri dengan refleksi kritis, menyuarakan pentingnya menjaga kelestarian alam dan menuntut akuntabilitas negara dalam penanganan bencana.
Bagi sebagian penyintas, momen Idulfitri tahun ini menjadi pengingat pahit atas dampak kerusakan lingkungan yang berujung pada bencana. Namun, di balik kepahitan tersebut, tumbuh kesadaran kuat akan urgensi menjaga hutan dan ekosistem. Sementara itu, keluarga lainnya dengan tegas mengingatkan bahwa tanggung jawab penanganan bencana tidak semata-mata ada di pundak masyarakat, melainkan juga merupakan tugas pokok negara.
Seruan Pentingnya Menjaga Alam
Salah satu keluarga penyintas di Aceh Tengah, yang enggan disebutkan namanya, mengungkapkan bahwa bencana banjir dan longsor yang mereka alami telah membuka mata akan pentingnya menjaga alam. Pengalaman kehilangan harta benda dan trauma psikologis akibat terjangan air bah dan lumpur membuat mereka sadar bahwa eksploitasi hutan secara sembarangan merupakan pemicu utama. "Tolong jaga alam, jangan asal babat," demikian pesan getir yang disampaikan, merujuk pada praktik deforestasi dan penggundulan hutan yang marak terjadi di hulu sungai.
Kesadaran ini bukan sekadar keluhan, melainkan sebuah seruan universal yang mestinya menjadi perhatian serius bagi semua pihak, terutama pemerintah dan pelaku industri. Kerusakan lingkungan yang terus berlanjut berpotensi menimbulkan bencana yang lebih besar dan sering di masa depan.
- Bencana bukan hanya takdir, melainkan konsekuensi tindakan manusia.
- Perlunya edukasi dan sosialisasi mengenai pentingnya konservasi alam di tingkat masyarakat.
- Penegakan hukum terhadap perusak lingkungan harus diperketat tanpa pandang bulu.
- Investasi pada penghijauan dan restorasi ekosistem harus menjadi prioritas.
Menuntut Tanggung Jawab Negara
Di sisi lain, sebuah keluarga penyintas di Pidie Jaya menyoroti aspek tanggung jawab negara yang dianggap masih kurang optimal dalam penanganan bencana. Mereka menegaskan bahwa negara memiliki mandat konstitusional untuk melindungi segenap tumpah darah dan memberikan rasa aman bagi warganya, termasuk dari ancaman bencana alam. "Negara harus lebih serius. Bukan hanya saat bencana datang, tapi juga mitigasi dan pencegahannya," ujar salah satu anggota keluarga.
Tuntutan ini mencakup berbagai aspek, mulai dari penyusunan tata ruang yang berbasis risiko bencana, pembangunan infrastruktur yang adaptif terhadap perubahan iklim, hingga program rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana yang komprehensif dan berkelanjutan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebagai garda terdepan dalam mitigasi bencana, diharapkan dapat terus meningkatkan koordinasi dan efektivitas programnya.
Tragedi ini mengingatkan kembali pada rentetan bencana serupa yang kerap melanda wilayah Indonesia. Ini bukan kali pertama bencana banjir dan longsor memakan korban dan menimbulkan kerugian besar di Aceh, sehingga urgensi peninjauan ulang kebijakan tata kelola sumber daya alam dan respons bencana di tingkat provinsi maupun nasional menjadi semakin mendesak. Pembelajaran dari peristiwa-peristiwa sebelumnya harusnya menjadi fondasi untuk sistem penanggulangan bencana yang lebih kokoh di masa mendatang.
Idulfitri Penuh Refleksi dan Harapan
Meskipun dirayakan dalam balutan keprihatinan, Idulfitri bagi para penyintas ini juga menjadi momentum untuk menumbuhkan harapan dan semangat kebersamaan. Kisah-kisah ketahanan mereka menjadi pengingat bahwa di balik setiap musibah, ada kekuatan luar biasa dalam diri manusia untuk bangkit dan berjuang. Refleksi Idulfitri kali ini menggarisbawahi bahwa perayaan keagamaan bukan hanya ritual, tetapi juga kesempatan untuk merenungkan hubungan antara manusia, alam, dan Tuhan, serta meninjau kembali peran masing-masing dalam menjaga keseimbangan kehidupan.
Harapan mereka sederhana: agar pemerintah dan seluruh elemen masyarakat dapat bahu-membahu menciptakan lingkungan yang lebih aman, lestari, dan berkeadilan, sehingga Idulfitri di tahun-tahun mendatang dapat dirayakan dengan sukacita yang utuh, tanpa dibayangi duka akibat bencana alam.