Ganda putri Indonesia, Febriana Dwipuji Kusuma/Meilysa Trias Puspitasari (Ana/Trias), saat bertanding di turnamen bulutangkis. Keduanya terhenti di perempatfinal All England 2026 setelah kalah dari wakil Malaysia. (Foto: sport.detik.com)
BIRMINGHAM – Langkah Febriana Dwipuji Kusuma/Meilysa Trias Puspitasari (Ana/Trias) di ajang bergengsi All England 2026 harus terhenti di babak perempatfinal. Pasangan ganda putri andalan Indonesia ini takluk di tangan wakil Malaysia, Pearly Tan/Thinaah Muralitharan, dalam pertandingan yang berlangsung sengit dan penuh drama. Ana/Trias menyerah dua gim langsung dengan skor 8-21, 18-21, mengakhiri perjalanan mereka di turnamen bulutangkis tertua di dunia tersebut.
Kekalahan ini mengejutkan banyak pihak, mengingat Ana/Trias menunjukkan performa menjanjikan di babak-babak sebelumnya. Harapan besar sempat disematkan kepada mereka untuk bisa melaju lebih jauh, mengingat beberapa hasil positif yang mereka raih sepanjang musim 2026. Namun, dominasi Pearly Tan/Thinaah Muralitharan, yang memang dikenal sebagai salah satu pasangan terkuat di sirkuit BWF, terbukti terlalu tangguh untuk diatasi.
Jalannya Pertandingan: Dominasi di Gim Pertama, Perlawanan Sengit di Gim Kedua
Sejak awal gim pertama, Pearly Tan/Thinaah Muralitharan langsung tampil menekan. Mereka menunjukkan kombinasi serangan yang variatif dan pertahanan rapat, membuat Ana/Trias kesulitan mengembangkan permainan terbaiknya. Poin demi poin dengan cepat berhasil diraih oleh pasangan Malaysia, yang unggul jauh 11-4 di interval. Setelah jeda, situasi tidak banyak berubah. Ana/Trias tampak kesulitan menemukan ritme, banyak melakukan kesalahan sendiri, dan akhirnya harus merelakan gim pertama dengan skor telak 8-21.
Memasuki gim kedua, Ana/Trias berusaha bangkit dan memberikan perlawanan yang jauh lebih sengit. Mereka bermain lebih agresif, berani melancarkan smash-smash tajam, dan menunjukkan pertahanan yang lebih solid. Kedudukan sempat berjalan ketat, dengan Ana/Trias beberapa kali berhasil menyamakan kedudukan, bahkan memimpin tipis. Teriakan dukungan dari staf pelatih dan para penggemar yang hadir semakin membakar semangat mereka. Namun, di poin-poin krusial, pengalaman dan ketenangan Pearly/Thinaah berbicara. Setelah kedudukan 18-18, pasangan Malaysia berhasil meraih tiga poin beruntun, mengunci kemenangan 21-18 dan memastikan tempat di semifinal.
Analisis Kekalahan dan Evaluasi Mendalam
Pelatih ganda putri Indonesia, yang enggan disebutkan namanya untuk saat ini, mengakui kekalahan ini adalah hasil dari kombinasi beberapa faktor. “Di gim pertama, anak-anak terlihat gugup dan sulit keluar dari tekanan lawan. Pola permainan yang kami siapkan tidak berjalan dengan baik. Pearly/Thinaah bermain sangat solid dan agresif,” ujarnya pasca pertandingan.
Lebih lanjut, ia menambahkan, “Di gim kedua, mereka sudah jauh lebih baik, bahkan nyaris merebut gim. Ini menunjukkan potensi dan semangat juang yang tinggi. Namun, di momen-momen penentu, keputusan dan eksekusi menjadi kunci. Kita akan melakukan evaluasi mendalam, khususnya terkait mentalitas di poin-poin kritis dan adaptasi strategi di lapangan.”
Kekalahan ini juga menggarisbawahi bahwa konsistensi performa di level tertinggi masih menjadi pekerjaan rumah bagi Ana/Trias. Pasangan Malaysia ini, dengan peringkat dunia yang lebih tinggi, berhasil memanfaatkan setiap celah dan meminimalisir kesalahan. Ini bukan kali pertama Ana/Trias harus menelan pil pahit dari Pearly/Thinaah; rekor pertemuan mereka selalu ketat dan seringkali berujung pada kekalahan tipis bagi wakil Indonesia, menandakan adanya rivalitas yang intens namun perlu strategi baru untuk memenangkannya.
Prospek Ganda Putri Indonesia di Masa Depan
Meskipun terhenti di perempatfinal, perjalanan Ana/Trias di All England 2026 tidak sepenuhnya tanpa catatan positif. Mencapai perempatfinal di turnamen sekelas All England adalah pencapaian yang patut diapresiasi dan menjadi bekal berharga untuk turnamen-turnamen selanjutnya. Indonesia masih memiliki beberapa pasangan ganda putri potensial lainnya yang terus menunjukkan perkembangan, namun Ana/Trias tetap menjadi salah satu harapan terbesar untuk bersaing di podium tertinggi.
Ketua Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI, yang selalu memantau perkembangan, menegaskan bahwa kekalahan ini harus dijadikan pelajaran berharga. “Target kita selalu tinggi di setiap turnamen. All England adalah barometer penting. Ana/Trias sudah berjuang maksimal, tapi kita harus akui lawan bermain lebih baik. Kami akan terus memfasilitasi mereka dengan program latihan yang intensif, fokus pada penguatan mental, fisik, dan variasi taktik agar bisa mengatasi lawan-lawan top dunia,” ujarnya. Diharapkan, pengalaman di All England 2026 ini akan memicu Ana/Trias untuk kembali berlatih lebih keras dan mempersiapkan diri menghadapi turnamen mayor berikutnya, termasuk Kejuaraan Dunia dan Asian Games, dengan strategi yang lebih matang.