Petugas penyelamat satwa liar menunjukkan seekor ular weling (ilustrasi). Gigitan ular jenis ini sangat mematikan dan memerlukan penanganan medis segera. (Foto: news.detik.com)
BOGOR – Duka menyelimuti kota hujan setelah dua pemuda menjadi korban gigitan ular weling (Bungarus candidus) saat tengah nongkrong. Satu korban meninggal dunia, sementara rekannya masih berjuang dalam kondisi kritis di rumah sakit. Insiden tragis ini kembali mengingatkan masyarakat akan bahaya laten satwa liar, terutama ular berbisa, yang mungkin berkeliaran di lingkungan permukiman maupun area terbuka.
Kejadian nahas tersebut berlangsung pada Sabtu (20/4/2024), sekitar pukul 22.00 WIB di sebuah area pinggir aliran sungai kecil yang kerap dijadikan tempat berkumpul anak muda di salah satu sudut Kabupaten. Kedua korban, Rizky (20) dan Aditya (21), diduga tidak menyadari kehadiran ular weling yang dikenal agresif dan sangat mematikan. Ular itu tiba-tiba menyerang, menggigit salah satu dari mereka, kemudian menyerang yang lain saat mencoba menolong atau menjauh. Kepanikan segera melanda, dan warga sekitar yang mendengar teriakan cepat memberikan pertolongan pertama sebelum melarikan keduanya ke fasilitas medis terdekat.
Setelah mendapatkan penanganan awal di Puskesmas Cibinong, tim medis merujuk kedua korban ke RSUD Cibinong mengingat parahnya gigitan dan jenis ular weling yang memiliki racun neurotoksin kuat. Sayangnya, upaya maksimal tim medis tidak mampu menyelamatkan nyawa Rizky. Ia menghembuskan napas terakhir beberapa jam setelah insiden, akibat efek racun yang cepat menyerang sistem saraf. Sementara itu, Aditya kini masih berjuang di ruang ICU, dalam kondisi kritis. Tim dokter mengawasi kondisinya secara intensif. Keluarga korban menyatakan kesedihan mendalam dan berharap adanya penanganan terbaik bagi Aditya.
Mengenal Ular Weling, Pembunuh Senyap di Malam Hari
Ular weling (Bungarus candidus) merupakan salah satu jenis ular berbisa tinggi yang banyak ditemukan di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Ciri khasnya adalah belang hitam putih yang kontras di sekujur tubuh. Ular ini dikenal aktif pada malam hari (nokturnal) dan sering mencari mangsa di sekitar area lembap, semak-semak, sawah, hingga permukiman yang berdekatan dengan area hijau. Gigitannya seringkali tidak menimbulkan rasa sakit yang hebat di awal, membuat korban terlambat menyadari bahayanya. Namun, racun neurotoksinnya bekerja cepat menyerang sistem saraf, menyebabkan kelumpuhan otot, gangguan pernapasan, dan jika tidak segera ditangani, berujung pada kematian. Para ahli herpetologi selalu mengingatkan masyarakat untuk tidak mencoba mendekati atau menangkap ular jenis ini, apalagi jika tidak memiliki pengetahuan dan perlengkapan yang memadai.
Langkah Darurat dan Pencegahan Gigitan Ular
Menyikapi insiden tragis ini, penting bagi masyarakat untuk memahami langkah-langkah darurat jika terjadi gigitan ular dan upaya pencegahannya.
- Tetap Tenang: Panik hanya mempercepat penyebaran racun.
- Jangan Gerakkan Bagian yang Digigit: Imobilisasi area yang digigit untuk memperlambat penyebaran racun.
- Lepas Aksesoris: Cincin, gelang, atau jam tangan harus dilepas karena pembengkakan akan terjadi.
- Segera ke Fasilitas Medis: Ini adalah langkah terpenting. Waktu adalah faktor krusial dalam penanganan gigitan ular berbisa.
- Hindari Pengobatan Tradisional: Jangan menghisap luka, menyayat, atau mengikat terlalu kencang (tourniquet) karena dapat memperburuk kondisi.
Untuk pencegahan, masyarakat perlu melakukan:
- Menjaga kebersihan lingkungan rumah dan sekitar.
- Tidak menumpuk barang bekas atau kayu bakar yang bisa menjadi sarang ular.
- Berhati-hati saat berjalan di area gelap atau semak-semak, terutama pada malam hari.
- Gunakan alas kaki tertutup saat beraktivitas di luar rumah, terutama di area yang berpotensi ada ular.
Kasus gigitan ular weling di Bogor ini menambah daftar panjang insiden serupa yang terjadi di berbagai daerah. Sebelumnya, BeritaKita.com juga pernah melaporkan kejadian gigitan ular di daerah pinggiran Depok pada awal tahun ini, yang menekankan urgensi peningkatan kesadaran masyarakat. Pemerintah daerah dan pihak terkait diharapkan meningkatkan edukasi mengenai mitigasi konflik manusia dan satwa liar, khususnya ular berbisa. Pihak berwenang mengimbau masyarakat untuk selalu waspada dan segera mencari pertolongan medis profesional jika mengalami atau menyaksikan gigitan ular.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai penanganan dan pencegahan gigitan ular, pembaca dapat mengakses artikel panduan kami yang komprehensif: Panduan Aman Menghadapi Ular Berbisa di Indonesia.