Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mendorong penguatan ekosistem dunia usaha yang melampaui sekadar pertumbuhan, fokus pada keberlanjutan dan resiliensi untuk masa depan ekonomi yang lebih baik. (Foto: finance.detik.com)
Kadin Gaungkan Ekosistem Bisnis yang Melampaui Pertumbuhan Angka Semata
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menyuarakan urgensi penguatan ekosistem dunia usaha yang tidak lagi hanya berorientasi pada pertumbuhan angka semata. Desakan ini muncul seiring semakin kompleksnya tantangan global dan kebutuhan akan fondasi bisnis yang lebih tangguh serta bertanggung jawab. Kadin melihat bahwa keberlanjutan, inklusivitas, dan resiliensi harus menjadi pilar utama dalam membangun lingkungan usaha di Indonesia.
Dalam pernyataannya, Kadin menekankan bahwa ekosistem bisnis yang kuat harus mampu beradaptasi dengan perubahan zaman, termasuk tren ekonomi hijau, digitalisasi, dan tuntutan penerapan prinsip Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola (ESG). Pendekatan ini diharapkan tidak hanya memberikan keuntungan jangka pendek bagi pelaku usaha, tetapi juga menciptakan dampak positif yang berkelanjutan bagi masyarakat dan lingkungan. Kalangan pengusaha sendiri menyambut baik gagasan ini, seraya menyoroti perlunya dukungan kebijakan konkret dari pemerintah untuk mewujudkan visi tersebut.
Memperkuat ekosistem berarti memastikan setiap komponennya, mulai dari usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) hingga korporasi besar, mendapatkan kesempatan yang setara untuk berkembang. Ini juga mencakup penyediaan akses permodalan yang adil, pelatihan sumber daya manusia yang relevan dengan kebutuhan industri masa depan, serta regulasi yang mendukung inovasi dan kepastian berusaha. Kadin berpandangan bahwa pertumbuhan ekonomi yang sehat harus diiringi dengan pemerataan dan kapasitas adaptasi yang tinggi.
Mengapa Ekosistem Berkelanjutan Menjadi Prioritas?
Fokus Kadin pada ekosistem bisnis yang tidak hanya berorientasi pertumbuhan bukanlah tanpa alasan. Sejumlah faktor global dan domestik menjadi pemicu utama pergeseran paradigma ini:
- Tuntutan Keberlanjutan Global: Konsumen, investor, dan mitra dagang internasional semakin menuntut praktik bisnis yang bertanggung jawab terhadap lingkungan dan sosial. Bisnis yang mengabaikan aspek ini akan kesulitan bersaing di pasar global.
- Resiliensi Ekonomi: Pandemi COVID-19 telah menunjukkan betapa rapuhnya ekosistem bisnis yang hanya mengandalkan pertumbuhan cepat tanpa fondasi yang kokoh. Diversifikasi, inovasi, dan manajemen risiko menjadi kunci ketahanan.
- Pemberdayaan UMKM: UMKM adalah tulang punggung perekonomian nasional, namun seringkali menghadapi tantangan akses pasar, teknologi, dan permodalan. Penguatan ekosistem berkelanjutan harus secara eksplisit mendukung UMKM agar naik kelas dan terintegrasi dalam rantai pasok global.
- Inovasi dan Digitalisasi: Dunia bergerak ke arah digital. Ekosistem yang adaptif harus mampu memfasilitasi adopsi teknologi baru dan mendorong inovasi di segala lini usaha, dari manufaktur hingga jasa.
- Penerapan Prinsip ESG: Penerapan prinsip Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola menjadi standar baru bagi investasi dan penilaian kinerja perusahaan. Kadin ingin memastikan dunia usaha Indonesia siap menghadapi tren ini.
Harapan Pengusaha dan Peran Pemerintah
Para pengusaha di Indonesia menyambut baik inisiatif Kadin ini, namun mereka juga memiliki serangkaian permintaan agar visi ekosistem bisnis yang berkelanjutan dapat terwujud nyata. “Hal ini” yang dimaksud pengusaha untuk “geber bisnis” mereka, merujuk pada beberapa poin krusial yang harus segera dilakukan:
- Harmonisasi Regulasi: Pengusaha membutuhkan regulasi yang jelas, konsisten, dan tidak tumpang tindih untuk menciptakan kepastian hukum dan mengurangi beban birokrasi. Ini termasuk kemudahan perizinan dan insentif bagi usaha yang menerapkan praktik berkelanjutan.
- Akses Pembiayaan Inovatif: Ketersediaan skema pembiayaan yang mendukung investasi pada teknologi hijau, digitalisasi, dan riset pengembangan sangat vital, terutama bagi UMKM dan startup.
- Pengembangan Sumber Daya Manusia: Program pelatihan dan pendidikan yang relevan dengan kebutuhan industri 4.0 dan ekonomi hijau, seperti keahlian digital, data science, dan energi terbarukan, harus terus digalakkan.
- Infrastruktur Pendukung: Pembangunan infrastruktur digital dan fisik yang merata akan mempermudah konektivitas dan logistik, mendukung efisiensi operasional dan ekspansi pasar.
- Transparansi dan Anti Korupsi: Lingkungan bisnis yang bersih dan transparan akan meningkatkan kepercayaan investor dan mendorong iklim usaha yang sehat.
Selaras dengan pandangan ini, sebelumnya Kadin juga telah aktif mengadvokasi berbagai kebijakan yang mendukung iklim investasi dan kemudahan berusaha, seperti terlihat pada diskusi seputar revisi Undang-Undang Cipta Kerja dan pembentukan Satgas Nasional Percepatan Investasi. Upaya penguatan ekosistem yang berkelanjutan ini merupakan kelanjutan dari komitmen Kadin untuk menciptakan iklim usaha yang kondusif dan kompetitif di tingkat global. Peran pemerintah sebagai regulator dan fasilitator sangat krusial dalam menyelaraskan visi ini dengan kebijakan yang pro-bisnis dan pro-rakyat. Untuk informasi lebih lanjut mengenai inisiatif Kadin, Anda dapat mengunjungi situs resmi mereka di Kadin Indonesia.
Memastikan ekosistem bisnis yang tangguh dan berkelanjutan berarti menjamin masa depan ekonomi Indonesia yang lebih stabil dan sejahtera bagi seluruh lapisan masyarakat.