Presiden terpilih Prabowo Subianto menyampaikan pandangannya mengenai peran strategis Global South dalam forum BRICS dan agenda pembangunan global. (Foto: news.detik.com)
Presiden terpilih Prabowo Subianto menekankan pentingnya bagi suara negara-negara di belahan bumi selatan global, atau yang dikenal sebagai Global South, untuk didengarkan secara substansial dalam forum BRICS. Penegasan ini tidak hanya bertujuan untuk mencapai target Agenda Pembangunan Berkelanjutan 2030, tetapi juga untuk merumuskan masa depan global yang lebih adil dan inklusif jauh melampaui dekade ini.
Pernyataan Prabowo menggarisbawahi komitmen Indonesia terhadap multilateralisme dan kesetaraan global, khususnya bagi negara-negara berkembang. Sebagai salah satu kekuatan ekonomi terbesar di Asia Tenggara dan anggota aktif berbagai forum internasional, Indonesia secara konsisten menyuarakan kebutuhan akan tatanan dunia yang lebih seimbang, di mana kepentingan negara-negara berkembang tidak terpinggirkan. KTT BRICS 2026 menjadi titik fokus bagi visi ini, sebuah platform yang diharapkan dapat mengkristalisasi aspirasi kolektif Global South.
Dalam konteks geopolitik saat ini, di mana dinamika kekuasaan global terus bergeser, BRICS (Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan, serta anggota baru lainnya) memegang peranan krusial sebagai wadah bagi negara-negara non-Barat. Keterlibatan aktif Indonesia, baik sebagai anggota penuh maupun mitra strategis, berpotensi memperkuat posisi tawar Global South di panggung dunia. Visi Prabowo ini selaras dengan prinsip politik luar negeri bebas aktif Indonesia, yang selalu berupaya untuk berkontribusi pada perdamaian dan keadilan global, serta memperjuangkan kepentingan nasional dan regional.
Mendesak Peran Transformasi BRICS untuk Global South
Prabowo Subianto secara tegas menyerukan agar BRICS bertransformasi menjadi lebih dari sekadar forum ekonomi. Ia membayangkan BRICS sebagai garda terdepan dalam menyuarakan isu-isu kritis yang dihadapi Global South, mulai dari perubahan iklim, restrukturisasi utang, hingga kesenjangan perdagangan global. Visi ini menunjukkan pemahaman mendalam tentang tantangan struktural yang menghambat pembangunan di banyak negara berkembang.
Beberapa poin kunci dari seruan tersebut meliputi:
- Representasi Suara: Memastikan bahwa narasi dan prioritas dari negara-negara Global South tidak hanya didengar, tetapi juga diintegrasikan dalam setiap keputusan strategis BRICS.
- Agenda Pembangunan Berkelanjutan: Mendesak percepatan implementasi Agenda 2030 PBB, namun dengan penekanan bahwa upaya global harus terus berlanjut dan beradaptasi dengan tantangan baru pasca-2030.
- Keadilan Ekonomi Global: Mendorong reformasi lembaga keuangan internasional dan sistem perdagangan yang lebih adil, yang mendukung pertumbuhan ekonomi inklusif di negara-negara berkembang.
- Kemandirian Strategis: Memperkuat kerja sama Selatan-Selatan untuk mengurangi ketergantungan pada blok kekuatan tradisional dan membangun kemandirian di berbagai sektor.
Analisis ini juga merujuk pada upaya-upaya sebelumnya oleh Indonesia di berbagai forum internasional, seperti G20 dan PBB, di mana Jakarta konsisten mengangkat isu-isu yang relevan bagi negara berkembang. Pernyataan Prabowo mengindikasikan kelanjutan dan penguatan posisi tersebut di bawah kepemimpinannya, dengan fokus strategis pada BRICS sebagai kendaraan penting.
Menatap Jauh Melampaui Agenda 2030
Penekanan Prabowo untuk ‘melampaui 2030’ menunjukkan kesadaran akan kompleksitas tantangan global yang tidak akan berakhir dengan tenggat waktu SDGs. Agenda 2030, dengan 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang ambisius, telah menjadi kerangka kerja global untuk mengatasi kemiskinan, kelaparan, ketidaksetaraan, dan perubahan iklim. Namun, banyak negara Global South masih bergulat dengan realitas yang jauh dari target tersebut, diperparah oleh krisis global seperti pandemi dan konflik geopolitik.
Dengan mendesak pandangan jangka panjang, Prabowo mengajak komunitas internasional untuk mulai merancang kerangka kerja pembangunan pasca-2030 yang lebih responsif dan adaptif. Ini termasuk mempertimbangkan model ekonomi sirkular, inovasi teknologi berkelanjutan, serta pembangunan infrastruktur hijau yang dapat menopang pertumbuhan di masa depan tanpa merusak lingkungan.
Indonesia, melalui visi ini, berupaya memposisikan diri sebagai pemimpin pemikiran di antara negara-negara Global South, yang siap berkolaborasi untuk membentuk arsitektur global yang lebih tangguh dan berpihak pada pembangunan merata. Keterlibatan Indonesia di BRICS dapat menjadi platform vital untuk mewujudkan aspirasi tersebut, membawa pengalaman dan perspektif unik dari negara kepulauan terbesar di dunia yang menghadapi tantangan pembangunan sekaligus memiliki potensi besar.
Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia telah menunjukkan minat yang besar untuk menjajaki kemungkinan bergabung dengan BRICS, menyadari potensi strategis dan ekonominya. Jika terwujud, langkah ini akan semakin memperkuat suara Global South dan mempercepat tercapainya tujuan pembangunan berkelanjutan bagi seluruh umat manusia, bukan hanya hingga 2030, melainkan untuk generasi-generasi mendatang.
Baca lebih lanjut tentang tujuan dan misi BRICS di situs resmi mereka: [https://brics.mid.ru/en/](https://brics.mid.ru/en/)