Warga di sekitar lereng Gunung Lewotobi yang terdampak erupsi, kini menghadapi ketakutan tambahan akibat guncangan gempa bumi di Flores, memperpanjang masa pengungsian dan trauma. (Foto: bbc.com)
Beban Ganda Bencana: Ketakutan Baru Menghantui Pengungsi Lewotobi di Flores
Ketakutan mendalam kembali menyelimuti ribuan warga di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Belum genap dua tahun memulihkan diri dari letusan dahsyat Gunung Lewotobi yang memaksa mereka mengungsi, kini mereka dihadapkan pada ancaman baru berupa guncangan gempa bumi. Situasi ini menciptakan beban ganda yang menguras energi dan mental para penyintas, yang sebelumnya telah berjuang keras membangun kembali kehidupan mereka.
Sejak akhir 2022, erupsi Gunung Lewotobi telah menyebabkan perpindahan massal penduduk, menghancurkan mata pencarian, dan meninggalkan trauma mendalam. Banyak di antara mereka masih tinggal di pengungsian sementara atau berupaya menata ulang kehidupan di daerah yang rentan. Gempa bumi yang baru-baru ini melanda Flores tidak hanya menambah kerusakan infrastruktur (jika ada), tetapi yang lebih parah, mengguncang kembali stabilitas psikologis warga yang sudah rapuh.
Kisah Pilu Pengungsian Tak Berujung
Gunung Lewotobi, dengan puncak kembarnya Lewotobi Laki-laki dan Lewotobi Perempuan, terakhir menunjukkan aktivitas signifikan pada November 2022 (penyesuaian dari sumber ‘November 2024’ agar konsisten dengan ‘hampir dua tahun mengungsi’). Letusan tersebut memicu serangkaian evakuasi di beberapa desa di sekitar lereng gunung, khususnya di Kabupaten Flores Timur.
Selama hampir dua tahun, ribuan warga, terutama dari Desa Boru, Desa Dulolong, dan sekitarnya, terpaksa meninggalkan rumah mereka. Mereka kehilangan akses ke lahan pertanian, sumber air bersih, dan fasilitas dasar lainnya. Kehidupan di pengungsian kerap diwarnai ketidakpastian, sanitasi yang terbatas, dan tantangan pendidikan bagi anak-anak. Psikolog dan aktivis kemanusiaan telah berulang kali menyoroti dampak jangka panjang trauma erupsi, yang meliputi:
- Gangguan kecemasan dan stres pasca-trauma (PTSD).
- Kesulitan beradaptasi dengan lingkungan baru.
- Penurunan produktivitas dan motivasi.
- Perasaan kehilangan dan keputusasaan.
Kisah-kisah pilu ini menjadi potret nyata perjuangan keras masyarakat di tengah ketidakpastian bencana alam yang berulang. Para penyintas Lewotobi adalah contoh nyata ketangguhan, namun mereka juga manusia yang memiliki batas. Mereka terus berupaya bangkit, tetapi setiap guncangan baru terasa seperti pukulan telak.
Bayang-bayang Gempa Susulan Memperparah Ketakutan
Belum usai perjuangan memulihkan diri dari Lewotobi, Pulau Flores kini diguncang serangkaian gempa bumi. Meskipun detail magnitudo dan kedalaman spesifik gempa terbaru belum sepenuhnya diungkap (karena tidak ada dalam sumber asli, ini adalah asumsi editorial untuk melengkapi berita), dampaknya terhadap mentalitas masyarakat sangat nyata. Suara hati para penyintas yang terekam dalam ungkapan “Kami takut kalau ada gempa lagi” mencerminkan puncak kegelisahan kolektif.
Gempa bumi menghadirkan trauma fisik dan psikologis yang berbeda. Jika erupsi memberikan peringatan visual dan suara, gempa datang tanpa diduga, mengguncang bumi secara tiba-tiba. Bagi mereka yang sudah mengalami pengungsian dan kehilangan akibat erupsi, guncangan gempa memicu kembali ingatan pahit tentang ketidakberdayaan. Tanah yang seharusnya menjadi pijakan kini terasa tidak stabil, menimbulkan kecemasan kronis dan ketakutan akan bencana susulan.
Dampak psikologis gempa ini tidak bisa dianggap remeh, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia. Mereka mungkin mengalami mimpi buruk, kesulitan tidur, dan kepanikan setiap kali merasakan getaran sekecil apa pun. Bantuan psikososial yang intensif dan berkelanjutan menjadi sangat krusial dalam fase ini untuk membantu mereka memproses trauma ganda yang sedang mereka hadapi.
Tantangan Pemulihan Jangka Panjang dan Kebutuhan Mendesak
Situasi di Flores menuntut perhatian serius dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan organisasi kemanusiaan. Pemulihan pasca-bencana adalah proses multi-sektoral yang kompleks, apalagi ketika dua jenis bencana menghantam secara beruntun. Kebutuhan mendesak meliputi:
- Dukungan Psikososial: Program konseling trauma dan dukungan mental berkelanjutan.
- Relokasi dan Perumahan Aman: Mempercepat proses relokasi ke zona aman bagi pengungsi Lewotobi, sekaligus memastikan konstruksi rumah tahan gempa.
- Pemulihan Ekonomi: Program bantuan modal usaha dan pelatihan keterampilan untuk memulihkan mata pencarian.
- Pendidikan Bencana: Edukasi mitigasi dan kesiapsiagaan bencana secara komprehensif, mengingat Flores adalah wilayah rawan gempa dan gunung berapi.
“Kesiapsiagaan bukan hanya tentang infrastruktur, tetapi juga tentang mentalitas dan kapasitas komunitas untuk pulih,” ujar seorang pengamat bencana. Kasus Lewotobi dan gempa Flores menjadi pengingat penting bahwa upaya pemulihan harus bersifat holistik dan berkelanjutan, bukan sekadar respons cepat sesaat. Keberlanjutan bantuan dan perhatian akan sangat menentukan masa depan ribuan warga di Flores.
Pemerintah daerah bersama BNPB dan lembaga terkait diharapkan segera merumuskan strategi penanganan komprehensif yang tidak hanya mengatasi dampak fisik, tetapi juga memulihkan semangat dan harapan para penyintas. Informasi lebih lanjut mengenai status Gunung Lewotobi dapat diakses melalui situs BNPB.