Perdana Menteri Benjamin Netanyahu saat menyampaikan pidato di Knesset, tengah menghadapi tekanan politik serius setelah hasil survei terbaru menunjukkan kemerosotan dukungan terhadap Partai Likud. (Foto: news.detik.com)
YERUSALEM – Hasil jajak pendapat yang dirilis pada Jumat (20/8) mengungkapkan kemerosotan signifikan dukungan terhadap Partai Likud, partai yang dipimpin oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Survei tersebut menempatkan Likud di peringkat kedua dan memprediksi hanya akan meraih 21 kursi di parlemen, sebuah angka yang jauh di bawah ekspektasi dan perolehan suara partai dalam beberapa pemilihan sebelumnya. Penurunan drastis ini sontak memicu gelombang spekulasi dan kekhawatiran di kalangan elite politik Israel, termasuk dugaan bahwa Netanyahu mungkin mempertimbangkan untuk menunda penyelenggaraan pemilu berikutnya.
Analisis kritis terhadap hasil survei ini menunjukkan bahwa posisi politik Netanyahu sedang berada di titik yang sangat rentan. Angka 21 kursi merupakan indikasi jelas adanya pergeseran sentimen pemilih yang signifikan. Jika prediksi ini akurat, maka Likud akan kesulitan membentuk koalisi yang stabil tanpa konsesi besar, atau bahkan terancam kehilangan kekuasaan. Situasi ini bukan hanya tantangan bagi Netanyahu secara pribadi, tetapi juga mengancam stabilitas pemerintahan Israel yang saat ini dipimpin oleh koalisi sayap kanan-religius yang telah menghadapi gelombang protes besar terkait reformasi peradilan kontroversial.
Kemerosotan Dukungan Likud dan Desakan Penundaan Pemilu
Survei pada 20 Agustus tersebut, meskipun detail pelaksananya tidak disebutkan secara eksplisit dalam sumber, secara konsisten menyoroti tren negatif bagi Likud. Peringkat kedua dengan hanya 21 kursi mengindikasikan bahwa partai oposisi, seperti Partai Persatuan Nasional yang dipimpin oleh Benny Gantz, atau Yesh Atid, kemungkinan besar unggul jauh. Dalam konteks politik Israel yang sangat terfragmentasi, setiap kehilangan kursi dapat berdampak fatal pada kemampuan sebuah partai untuk membentuk mayoritas koalisi.
Dugaan mengenai Netanyahu yang ingin menunda pemilu bukanlah hal baru. Politisi veteran yang dikenal dengan kemampuan manuver politiknya ini pernah menghadapi berbagai krisis serupa sepanjang kariernya. Penundaan pemilu, jika terjadi, bisa menjadi strategi untuk memberinya waktu lebih guna:
- Mengatasi isu-isu domestik yang menyebabkan ketidakpuasan publik, seperti inflasi, biaya hidup, atau ketegangan sosial akibat reformasi yudisial.
- Membangun kembali citra dan popularitas partai setelah serangkaian keputusan kontroversial.
- Mencari cara untuk merestrukturisasi koalisi atau membentuk aliansi baru yang lebih kuat.
- Menunggu perkembangan situasi keamanan regional yang mungkin bisa dimanfaatkan untuk menggalang dukungan nasionalis.
Namun, langkah untuk menunda pemilu bukanlah perkara mudah di sistem demokrasi Israel. Proses ini biasanya memerlukan persetujuan legislatif yang signifikan atau kondisi darurat nasional yang tidak terbantahkan, yang keduanya akan sangat sulit dicapai tanpa memicu krisis konstitusional dan protes lebih lanjut.
Dinamika Politik Israel yang Penuh Gejolak
Kondisi politik Israel saat ini memang sedang berada di titik didih. Sejak kembali menjabat pada akhir 2022, pemerintahan Netanyahu telah menghadapi protes mingguan yang masif terhadap rencana reformasi peradilan yang kontroversial. Rencana tersebut, yang bertujuan untuk membatasi kekuasaan Mahkamah Agung, dikecam sebagai upaya untuk merusak demokrasi dan memberikan kekuasaan tak terbatas kepada eksekutif. Ketegangan ini telah memecah belah masyarakat Israel dan memengaruhi dukungan terhadap koalisi yang berkuasa.
Selain itu, isu keamanan regional yang terus memanas, termasuk eskalasi di Tepi Barat dan ancaman dari Iran, juga menjadi faktor penentu dalam persepsi publik terhadap kepemimpinan Netanyahu. Sementara ia dikenal sebagai ‘Mr. Security’, kegagalannya meredakan ketegangan domestik dan regional telah menimbulkan keraguan.
Peristiwa ini mengingatkan pada dinamika politik Israel di masa lalu, di mana Netanyahu secara berulang kali berhasil selamat dari tantangan dan krisis politik. Ia pernah beberapa kali menghadapi tuntutan pidana dan tuduhan korupsi, namun selalu berhasil mempertahankan posisinya atau kembali berkuasa. Sebagai contoh, dalam artikel sebelumnya yang menganalisis ketahanan politik Netanyahu, sering disebutkan bagaimana ia mahir dalam mengubah narasi dan memobilisasi basis pendukungnya dalam situasi genting. Namun, kemerosotan dalam survei terbaru ini menunjukkan bahwa taktik lama mungkin tidak lagi cukup efektif untuk mengatasi gelombang ketidakpuasan yang ada.
Implikasi dan Masa Depan Netanyahu
Hasil survei yang memprihatinkan bagi Likud ini menimbulkan pertanyaan serius tentang masa depan politik Benjamin Netanyahu. Jika tren ini berlanjut, ia akan menghadapi tekanan besar untuk membubarkan parlemen dan mengadakan pemilihan umum dini, atau menghadapi mosi tidak percaya dari koalisi yang retak.
Meskipun ia dikenal sebagai seorang survivor politik ulung, data survei terbaru ini menjadi peringatan keras. Jika ia bersikeras menunda pemilu tanpa alasan yang kuat, hal itu bisa dianggap sebagai tindakan anti-demokrasi dan hanya akan memperburuk krisis kepercayaan publik. Sebaliknya, menghadapi pemilu dalam kondisi sekarang berisiko besar membuatnya kehilangan jabatannya. Masa depan politik Israel, dan mungkin Netanyahu sendiri, akan sangat bergantung pada bagaimana ia merespons tantangan berat ini dalam beberapa bulan mendatang.