Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa berinteraksi dengan warga terdampak gempa saat kunjungannya di Manggarai, NTT, guna memantau layanan psikososial dan kesehatan serta memberikan dukungan. (Foto: news.detik.com)
Perhatian Khofifah Terhadap Dampak Gempa Manggarai
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, turun langsung ke Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), menegaskan komitmennya dalam membantu pemulihan pasca gempa yang melanda wilayah tersebut beberapa waktu lalu. Kunjungan kerja ini berfokus pada evaluasi dan optimalisasi layanan psikososial serta kesehatan bagi masyarakat terdampak, khususnya kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak.
Dalam kunjungannya, Khofifah menekankan pentingnya pendekatan holistik dalam penanganan bencana. “Gempa bumi tidak hanya merusak infrastruktur fisik, tetapi juga meninggalkan luka mendalam secara psikologis. Kita harus memastikan bahwa aspek pemulihan mental dan kesehatan juga mendapatkan perhatian yang sama, bahkan lebih, terutama bagi mereka yang paling rentan,” ujar Khofifah di sela-sela peninjauannya.
Kondisi pasca-gempa seringkali memicu trauma, kecemasan, dan stres berkelanjutan di kalangan penyintas. Lansia, dengan keterbatasan fisik dan mental, serta anak-anak yang belum sepenuhnya memahami situasi, menjadi kelompok yang paling mudah terpengaruh dan memerlukan perhatian ekstra. Tanpa pendampingan yang tepat, dampak psikologis ini dapat menghambat proses pemulihan sosial dan ekonomi komunitas dalam jangka panjang.
Fokus pada Layanan Psikososial dan Kesehatan Mental
Pendampingan psikososial menjadi tulang punggung dalam upaya pemulihan jangka panjang pasca-bencana. Khofifah mendorong peningkatan intensitas dan jangkauan layanan ini agar dapat menyentuh seluruh lapisan masyarakat yang membutuhkan, dari pusat pengungsian hingga permukiman terpencil. Beberapa poin penting yang menjadi perhatian dalam optimalisasi layanan ini meliputi:
- Identifikasi Kebutuhan Spesifik: Memastikan tim pendamping mampu mengidentifikasi gejala trauma dan kebutuhan psikologis yang beragam pada setiap individu, khususnya lansia yang mungkin kesulitan mengungkapkan perasaan mereka dan anak-anak yang menunjukkan perubahan perilaku.
- Peningkatan Kapasitas Tenaga Ahli: Memperkuat tim relawan dan tenaga kesehatan dengan pelatihan khusus penanganan trauma pasca-bencana, termasuk teknik konseling dan terapi bermain untuk anak-anak.
- Akses Terpadu: Memastikan layanan kesehatan fisik dan psikis terintegrasi serta mudah diakses oleh seluruh korban, termasuk mereka di daerah terpencil yang seringkali luput dari jangkauan bantuan.
- Program Bermain dan Belajar: Mengadakan kegiatan khusus bagi anak-anak untuk membantu mereka mengatasi trauma melalui permainan dan aktivitas edukatif yang positif, sekaligus memulihkan rasa aman dan normalitas.
“Pemulihan mental membutuhkan waktu dan kesabaran, bukan sekadar respons cepat. Oleh karena itu, kita harus menyiapkan program berkelanjutan yang tidak hanya bersifat insidental, tetapi mampu memberikan dukungan jangka panjang hingga masyarakat benar-benar pulih dan mandiri,” tambah Khofifah. Ia juga menyerukan agar seluruh pihak, baik pemerintah daerah, lembaga swadaya masyarakat, maupun masyarakat umum, turut serta aktif dalam menciptakan lingkungan yang suportif dan empatik bagi para penyintas.
Sinergi Penanganan Bencana Lintas Daerah
Kunjungan Khofifah ke Manggarai juga menjadi simbol kuat sinergi dan solidaritas antarprovinsi dalam penanganan bencana. Jawa Timur, yang juga sering menghadapi tantangan kebencanaan seperti erupsi gunung berapi dan banjir, memiliki pengalaman dan sumber daya yang dapat dibagi dalam manajemen krisis dan pemulihan. Sebelumnya, Khofifah juga aktif mengkoordinasikan bantuan dari berbagai elemen masyarakat Jawa Timur untuk daerah-daerah lain yang dilanda bencana, termasuk pada saat erupsi Semeru atau banjir bandang di sejumlah titik di Jawa. Ini menunjukkan bahwa semangat gotong royong dan kepedulian lintas daerah merupakan kunci utama dalam mitigasi dan respons bencana nasional yang efektif dan terkoordinasi. Baca lebih lanjut mengenai pentingnya penanggulangan bencana psikososial di situs BNPB.
“Bencana adalah urusan kita bersama. Solidaritas adalah kekuatan kita. Kami di Jawa Timur senantiasa siap bersinergi dengan pemerintah daerah lain dan pusat untuk memastikan setiap warga negara yang terdampak bencana mendapatkan hak pemulihan terbaiknya,” tegasnya, menggarisbawahi pentingnya kolaborasi multisektor. Ia juga mengapresiasi upaya pemerintah daerah Manggarai dan NTT yang telah bekerja keras dalam respons awal pasca-gempa, seringkali dengan sumber daya terbatas.
Komitmen Jangka Panjang dan Pemulihan Berkelanjutan
Kunjungan ini bukan sekadar penyerahan bantuan fisik sesaat, melainkan penegasan komitmen untuk pendampingan jangka panjang. Gubernur Khofifah berharap, melalui optimalisasi layanan psikososial dan kesehatan, masyarakat Manggarai dapat bangkit lebih kuat dan resilient. Proses pemulihan ini mencakup tidak hanya aspek fisik dan material, tetapi juga pembangunan kembali kekuatan emosional, sosial, dan kapasitas adaptasi komunitas terhadap potensi bencana di masa depan.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur, di bawah kepemimpinan Khofifah, akan terus memantau perkembangan dan siap memberikan dukungan lanjutan yang diperlukan, baik dalam bentuk tenaga ahli maupun fasilitasi program. Dengan demikian, diharapkan Manggarai dapat segera pulih sepenuhnya, dan masyarakatnya dapat kembali menjalani kehidupan normal dengan semangat baru, terbebas dari bayang-bayang trauma bencana. Artikel terkait sebelumnya pernah mengulas langkah cepat Jawa Timur dalam mengirimkan tim relawan dan logistik ke berbagai daerah bencana di Indonesia, termasuk wilayah di NTT yang juga pernah diterjang badai siklon Seroja, menunjukkan konsistensi dan keseriusan dalam upaya kemanusiaan ini.