Delegasi tingkat tinggi China dan pejabat Indonesia dalam pertemuan bilateral yang membahas kerjasama teknologi dan inisiatif AI global di Jakarta. (Foto: cnnindonesia.com)
Pemerintah China secara aktif mendesak Indonesia untuk memberikan dukungan terhadap World Artificial Intelligence Cooperation Organization (WAICO), sebuah inisiatif yang digagas Beijing untuk memperkuat kerja sama global di bidang kecerdasan buatan. Dialog tingkat tinggi yang baru-baru ini berlangsung di Jakarta menjadi forum strategis bagi China untuk mempromosikan visi tata kelola AI-nya, sekaligus menguji konsistensi posisi non-blok Indonesia di tengah ketatnya persaingan dominasi teknologi antara Amerika Serikat dan China.
Desakan ini tidak sekadar ajakan biasa, melainkan cerminan ambisi China untuk membentuk narasi dan standar global dalam pengembangan serta penerapan AI. Dengan mendorong negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, untuk bergabung dengan WAICO, China berupaya membangun koalisi yang lebih luas, berpotensi menyeimbangkan pengaruh inisiatif AI yang dipimpin Barat. Bagi Indonesia, situasi ini menempatkannya pada persimpangan strategis, harus menimbang antara peluang teknologi dan potensi keterlibatan dalam polarisasi geopolitik yang semakin intens.
### Strategi Global AI China dan Peran WAICO
Inisiatif WAICO muncul sebagai respons langsung terhadap kebutuhan akan kerangka kerja sama AI yang lebih inklusif dan representatif secara global, setidaknya dari perspektif China. Beijing melihatnya sebagai platform untuk:
- Membentuk Standar Global: Mengembangkan norma, etika, dan standar teknis untuk AI yang sejalan dengan visi dan kepentingan China, yang mungkin berbeda dari pendekatan Barat yang lebih berfokus pada privasi dan hak individu.
- Mendorong Transfer Teknologi: Memfasilitasi pertukaran pengetahuan, penelitian, dan teknologi AI antara negara-negara anggota, berpotensi memberikan akses bagi negara-negara berkembang yang mungkin tertinggal dalam pengembangan AI.
- Memperkuat Pengaruh Diplomatik: Mengkonsolidasikan dukungan internasional untuk pendekatan China terhadap AI, terutama dalam forum-forum PBB atau organisasi multilateral lainnya.
- Mengatasi Kesenjangan Digital: Mengklaim posisi sebagai pemimpin dalam membantu negara-negara berkembang memanfaatkan potensi AI untuk pembangunan ekonomi dan sosial, menanggapi kritik bahwa teknologi canggih seringkali hanya dinikmati oleh segelintir negara maju.
Langkah China mengundang Indonesia bukanlah tanpa alasan. Indonesia, sebagai negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara dan posisi geopolitik yang strategis, merupakan mitra kunci dalam memperkuat legitimasi WAICO dan memperluas jangkauannya di kawasan. Keberhasilan China dalam membujuk Indonesia akan menjadi preseden penting bagi negara-negara lain di Asia, Afrika, dan Amerika Latin.
### Posisi Non-Blok Indonesia di Tengah Tarik-Menarik Kekuatan
Prinsip politik luar negeri bebas aktif telah lama menjadi landasan diplomasi Indonesia. Prinsip ini memungkinkan Indonesia untuk tidak memihak blok kekuatan mana pun, tetapi aktif berkontribusi pada perdamaian dan stabilitas global. Dalam konteks AI, prinsip ini menjadi semakin relevan dan menantang. Mendukung WAICO sepenuhnya dapat ditafsirkan sebagai condong ke Beijing, terutama mengingat WAICO adalah inisiatif yang dipimpin China dan seringkali dilihat sebagai lawan dari model tata kelola AI yang dipromosikan oleh negara-negara Barat, khususnya AS.
Namun, menolak WAICO secara mentah-mentah juga bisa berarti kehilangan peluang untuk:
- Mengakses Inovasi dan Investasi: China adalah pemimpin global dalam beberapa aspek AI, dan kerja sama dapat membuka pintu bagi teknologi baru, investasi, serta pengembangan kapasitas.
- Berpartisipasi dalam Perumusan Aturan: Berada di dalam forum memberikan Indonesia kesempatan untuk menyuarakan kepentingannya dan mempengaruhi arah kebijakan global AI, daripada hanya menjadi penerima standar yang ditetapkan pihak lain.
- Mendiversifikasi Kemitraan: Menjaga keseimbangan dalam kemitraan teknologi, tidak hanya bergantung pada satu sumber atau blok kekuatan.
Pemerintah Indonesia kemungkinan besar akan menyikapi ajakan ini dengan sangat hati-hati, mempertimbangkan implikasi jangka panjang bagi kedaulatan data, etika AI nasional, dan keseimbangan hubungan diplomatiknya. Sikap Indonesia di masa lalu dalam menghadapi isu-isu sensitif global menunjukkan kecenderungannya untuk mencari solusi yang paling menguntungkan kepentingan nasional tanpa harus mengorbankan prinsip non-bloknya. Hal ini terlihat dalam berbagai forum internasional, di mana Indonesia secara konsisten menyuarakan pentingnya multilateralisme dan kerja sama yang inklusif, seperti komitmennya terhadap transformasi digital yang adil dan merata.
### Implikasi Bagi Masa Depan Digital Indonesia
Keputusan Indonesia terkait WAICO akan memiliki implikasi besar bagi masa depan digital dan strategi AI nasional. Jika Indonesia memilih untuk bergabung, hal ini dapat mempercepat pengembangan ekosistem AI domestik melalui akses ke teknologi dan keahlian China. Namun, hal ini juga dapat menimbulkan pertanyaan tentang kompatibilitas standar, keamanan siber, dan potensi ketergantungan teknologi. Sebaliknya, jika Indonesia menahan diri, negara ini mungkin perlu lebih agresif dalam mengembangkan kerangka kerja AI domestik dan mencari kemitraan bilateral atau multilateral alternatif yang lebih selaras dengan visi nasionalnya.
Indonesia sendiri memiliki ambisi kuat dalam pengembangan AI, seperti yang tertuang dalam Strategi Nasional Kecerdasan Artifisial (Stranas KA). Oleh karena itu, setiap kerja sama internasional harus selaras dengan tujuan tersebut, memperkuat kapasitas lokal, dan melindungi kepentingan nasional dari potensi risiko.
### Menuju Tata Kelola AI yang Inklusif dan Berdaulat
Tantangan utama bagi Indonesia adalah bagaimana berkontribusi pada tata kelola AI global yang inklusif tanpa kehilangan kedaulatan digitalnya. Indonesia memiliki kesempatan untuk memposisikan diri sebagai jembatan antara blok-blok kekuatan, mengadvokasi pendekatan etis dan human-centric terhadap AI yang berakar pada nilai-nilai Pancasila. Ini memerlukan perumusan kebijakan yang matang, investasi dalam riset dan pengembangan AI domestik, serta pembangunan sumber daya manusia yang kompeten.
Pada akhirnya, keputusan Indonesia terhadap WAICO akan menjadi ujian penting bagi kemampuannya dalam menavigasi kompleksitas diplomasi teknologi abad ke-21. Ini bukan hanya tentang memilih pihak, melainkan tentang bagaimana Indonesia dapat mengamankan masa depannya di era AI, memastikan teknologi canggih ini benar-benar melayani kesejahteraan rakyat dan mempertahankan identitas bangsa di panggung dunia.