Mantan Presiden AS Donald Trump (kiri) saat mengajukan Presiden FIFA Gianni Infantino (kanan) sebagai kandidat Sekretaris Jenderal PBB berikutnya, memicu debat sengit tentang kualifikasi dan proses seleksi. (Foto: news.detik.com)
Trump Usulkan Presiden FIFA Gianni Infantino Pimpin PBB
Mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara mengejutkan mengajukan nama Presiden FIFA Gianni Infantino sebagai kandidat potensial untuk jabatan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) berikutnya. Trump menyatakan keyakinannya bahwa Infantino memiliki kemampuan istimewa yang diperlukan untuk menyatukan orang-orang di kancah global. Usulan ini sontak memicu perbincangan luas, mengingat latar belakang Infantino yang dominan di dunia olahraga, bukan diplomasi internasional.
Pernyataan Trump ini menandai sebuah pendekatan yang tidak konvensional terhadap pemilihan pemimpin organisasi multilateral terbesar di dunia. Biasanya, kandidat Sekjen PBB memiliki rekam jejak panjang dalam politik, diplomasi, atau tata kelola pemerintahan internasional. Dorongan dari seorang tokoh politik sekelas Trump untuk seorang figur dari dunia olahraga menggarisbawahi potensi pergeseran persepsi terhadap kualifikasi yang dibutuhkan untuk peran sepenting Sekjen PBB.
Mengurai Alasan di Balik Pilihan Trump
Alasan utama yang dikemukakan Trump terkait usulannya adalah kemampuan Infantino dalam "menyatukan orang-orang." Pernyataan ini patut dicermati secara kritis. Meskipun FIFA, di bawah kepemimpinan Infantino, memang berhasil menyatukan miliaran penggemar sepak bola dari berbagai negara, menyatukan negara-negara anggota PBB dengan agenda politik, ekonomi, dan keamanan yang kompleks adalah tantangan yang jauh berbeda.
Kepemimpinan di PBB menuntut pemahaman mendalam tentang geopolitik, negosiasi antarnegara berdaulat, penanganan krisis kemanusiaan, dan mediasi konflik yang seringkali melibatkan kepentingan yang sangat bertentangan. Pengalaman dalam mengelola turnamen olahraga global, meski impresif dalam skala logistik, mungkin tidak secara langsung berkorelasi dengan keahlian diplomatik tingkat tinggi yang diperlukan untuk mengatasi isu-isu seperti perubahan iklim, konflik bersenjata, atau ketidaksetaraan global.
Profil Gianni Infantino dan Tantangan Diplomatis
Gianni Infantino, seorang pengacara berkebangsaan Swiss-Italia, telah memimpin FIFA sejak 2016. Selama masa jabatannya, ia aktif memperluas format Piala Dunia dan mengembangkan sepak bola di berbagai belahan dunia. Popularitas sepak bola yang mendunia memang menjadikannya platform yang kuat untuk "menyatukan" dalam konteks tertentu. Namun, sejarah FIFA juga tidak luput dari kontroversi, termasuk tuduhan korupsi dan isu hak asasi manusia terkait pemilihan tuan rumah Piala Dunia.
Transferensi kemampuan dari arena olahraga ke panggung diplomasi global PBB akan menjadi ujian besar. Berikut beberapa poin penting yang perlu dipertimbangkan:
- Minim Pengalaman Diplomatik: Infantino tidak memiliki latar belakang formal di bidang diplomasi, hubungan internasional, atau manajemen organisasi antar-pemerintah.
- Skala Permasalahan: Urusan PBB mencakup spektrum yang jauh lebih luas dan seringkali lebih sensitif dibandingkan dengan regulasi olahraga.
- Kredibilitas Politik: Sekjen PBB memerlukan dukungan luas dari negara-negara anggota, terutama anggota tetap Dewan Keamanan, yang mungkin mempertanyakan kredibilitas diplomatik Infantino.
Proses Pemilihan Sekretaris Jenderal PBB yang Kompleks
Pemilihan Sekretaris Jenderal PBB bukan sekadar penunjukan informal atau berdasarkan preferensi individu. Prosesnya melibatkan serangkaian tahapan yang ketat dan konsensus politik yang rumit di antara 193 negara anggota. Kandidat umumnya dinominasikan oleh pemerintah negara asal mereka dan harus melalui proses seleksi yang transparan.
Sesuai panduan resmi PBB, Dewan Keamanan memainkan peran krusial, merekomendasikan satu kandidat kepada Majelis Umum untuk persetujuan akhir. Lima anggota tetap Dewan Keamanan (AS, Inggris, Prancis, Rusia, dan Tiongkok) memiliki hak veto, yang berarti setiap rekomendasi harus mendapatkan persetujuan dari mereka semua. Selain itu, ada tradisi rotasi regional yang tidak tertulis, memastikan bahwa jabatan Sekjen PBB dipegang oleh perwakilan dari berbagai wilayah dunia secara bergiliran. Sekjen PBB saat ini, António Guterres, berasal dari Portugal, Eropa Barat, dan masa jabatannya akan berakhir pada 2026.
Usulan Trump ini, dengan demikian, harus dihadapkan pada realitas mekanisme pemilihan PBB yang menuntut dukungan lintas negara dan kualifikasi yang sesuai dengan tantangan diplomasi global. Mengingat rekam jejak Donald Trump yang seringkali menantang norma-norma internasional dan kritik kerasnya terhadap PBB di masa lalu, usulan ini juga dapat dilihat sebagai bagian dari strateginya untuk memposisikan tokoh yang ia yakini dapat membawa perubahan dari luar lingkaran diplomatik tradisional.
Artikel ini pernah membahas bagaimana kebijakan luar negeri AS di era sebelumnya seringkali bergejolak, dan usulan ini bisa jadi merupakan kelanjutan dari pola tersebut, di mana pragmatisme politik personal lebih diutamakan daripada konvensi diplomatik. Apakah Infantino benar-benar akan dipertimbangkan serius untuk jabatan ini masih harus dilihat, namun jelas bahwa gagasan ini telah membuka diskusi penting tentang kriteria kepemimpinan global di abad ke-21.