Diego Maradona berselebrasi usai mencetak gol ke gawang Inggris di perempat final Piala Dunia 1986, salah satu momen paling kontroversial sekaligus brilian dalam sejarah sepak bola. (Foto: bbc.com)
Pertandingan antara Argentina dan Inggris selalu lebih dari sekadar duel sepak bola di lapangan hijau. Ini adalah pertempuran yang diukir dalam sejarah, dipenuhi drama, kontroversi, dan momen kejeniusan individual yang tak terlupakan. Rivalitas sengit ini bermula dari lapangan hijau, namun akarnya menjalar jauh ke dalam memori kolektif kedua bangsa, terutama dipicu oleh peristiwa politik dan sosial yang mendalam.
Dua episode paling ikonik yang menjadi penanda permusuhan abadi ini adalah gol ‘Tangan Tuhan’ Diego Maradona pada perempat final Piala Dunia 1986 dan kartu merah David Beckham di Prancis 12 tahun kemudian. Setiap kali kedua negara ini berpotensi bertemu dalam ajang sepak bola besar, kenangan-kenangan pahit sekaligus heroik itu sontak kembali mencuat, membakar emosi penggemar dan media di seluruh dunia.
‘Tangan Tuhan’ di Mexico 1986: Simbol Kontroversi dan Kejeniusan
Di tengah terik matahari Mexico City pada 22 Juni 1986, dunia menyaksikan salah satu pertandingan perempat final Piala Dunia paling tak terlupakan. Argentina dan Inggris berhadapan, membawa serta ketegangan politik pasca Perang Falkland (Malvinas) yang baru berakhir beberapa tahun sebelumnya. Diego Maradona, sang kapten Argentina, menjadi aktor utama dalam drama tersebut, menciptakan dua gol yang akan selamanya dibicarakan.
Hanya empat menit setelah babak kedua dimulai, Maradona meloncat untuk menyambut umpan silang dan menyentuh bola dengan tangannya, menipu wasit dan kiper Inggris Peter Shilton. Gol kontroversial ini kemudian ia juluki ‘Tangan Tuhan’. Meskipun menuai protes keras dari para pemain Inggris dan memicu perdebatan global, gol tersebut tetap disahkan, memberikan Argentina keunggulan 1-0.
Tak lama berselang, Maradona kembali memukau dunia dengan cara yang sama sekali berbeda. Ia menggiring bola dari area pertahanannya sendiri, melewati lima pemain Inggris dengan dribel memukau, sebelum menceploskan bola ke gawang Shilton. Gol kedua ini, yang sering disebut ‘Gol Abad Ini’, menunjukkan kejeniusan tak terbantahkan Maradona dan kapasitasnya untuk mengubah jalannya pertandingan sendirian. Argentina akhirnya memenangkan pertandingan 2-1 dan terus melaju hingga menjadi juara dunia, sementara Inggris harus pulang dengan luka dan rasa tidak puas yang mendalam.
Kartu Merah Beckham di Prancis 1998: Drama dan Penebusan
Dua belas tahun kemudian, takdir kembali mempertemukan kedua raksasa sepak bola ini di babak 16 besar Piala Dunia 1998 di Saint-Étienne, Prancis. Dengan generasi pemain baru dan harapan besar di pundak, kedua tim kembali bertarung dalam laga yang tak kalah dramatis. Pertandingan itu berlangsung sengit sejak peluit awal berbunyi, dengan kedua tim saling jual beli serangan.
Insiden paling dramatis terjadi di awal babak kedua. David Beckham, gelandang muda Inggris yang sedang naik daun, melayangkan tendangan frustrasi ke arah Diego Simeone setelah dilanggar oleh gelandang Argentina itu. Wasit Kim Milton Nielsen tanpa ragu mengacungkan kartu merah, membuat Inggris harus bermain dengan 10 pemain selama hampir seluruh babak kedua dan perpanjangan waktu.
Dengan semangat juang yang luar biasa, Inggris berhasil menahan imbang Argentina 2-2 hingga babak perpanjangan waktu berakhir. Namun, di babak adu penalti, keberuntungan tidak berpihak pada mereka. Tendangan penalti dari Hernán Crespo dan Ariel Ortega berhasil masuk, sementara tendangan Paul Ince dan David Batty gagal dieksekusi dengan sempurna, mengakhiri perjalanan Inggris di Piala Dunia tersebut. Beckham menjadi kambing hitam publik Inggris dan menerima kritik pedas. Namun, insiden ini juga menjadi titik balik dalam kariernya, di mana ia menunjukkan ketahanan mental yang luar biasa untuk bangkit dan menjadi salah satu ikon sepak bola global yang paling dihormati.
Lebih dari Sekadar Sepak Bola: Rivalitas yang Melampaui Lapangan
Perang Falkland (Malvinas) pada tahun 1982 telah menanamkan dimensi politik yang mendalam ke dalam rivalitas sepak bola antara Argentina dan Inggris. Bagi banyak pihak, kemenangan di lapangan hijau seringkali dianggap sebagai bentuk kemenangan simbolis di luar lapangan, membalaskan dendam sejarah atau menegaskan kembali kebanggaan nasional. Ini bukan hanya tentang memenangkan pertandingan, tetapi juga tentang supremasi dan martabat.
Setiap pertemuan membawa beban emosional yang besar bagi pemain dan suporter. Atmosfer pertandingan selalu panas, penuh gairah, dan terkadang diwarnai insiden. Ini adalah duel yang selalu menarik perhatian dunia, bukan hanya karena kualitas sepak bolanya, tetapi juga karena narasi dramatis yang menyertainya dan dampak historis yang selalu dibawanya.
Menatap Masa Depan: Akankah Sejarah Terulang?
Meskipun saat ini belum ada kepastian mengenai pertemuan Argentina dan Inggris di babak semifinal Piala Dunia 2026 atau turnamen besar lainnya—mengingat jadwal dan lawan belum ditentukan—potensi terjadinya laga tersebut selalu menjadi topik hangat. Setiap kali pengundian turnamen besar dilakukan, mata para penggemar sepak bola akan selalu mencari kemungkinan kedua tim ini akan berhadapan. Antusiasme ini menunjukkan betapa dalamnya akar rivalitas tersebut dalam ingatan kolektif penggemar sepak bola di seluruh dunia.
Jika dan ketika pertemuan ini terjadi lagi, satu hal yang pasti: sejarah akan selalu menjadi bayang-bayang di lapangan. Para pemain mungkin berbeda, taktik mungkin berevolusi, tetapi semangat persaingan dan ingatan akan ‘Tangan Tuhan’ serta kartu merah Beckham akan terus hidup, siap membangkitkan gairah dan emosi di setiap sudut dunia. Rivalitas abadi antara Argentina dan Inggris ini akan terus menjadi salah satu cerita terbaik yang ditawarkan dunia sepak bola, sebuah saga yang selalu dinanti babak berikutnya.