Massa berkumpul di Teheran, Iran, menunjukkan dukungan dan sentimen anti-Amerika dalam sebuah acara publik, mirip dengan suasana di upacara pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. (Foto: cnnindonesia.com)
Retorika Anti-AS Memuncak di Tengah Prosesi Pemakaman Penting
Sebuah insiden yang menunjukkan intensitas ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat kembali mencuat, kali ini dari arena sakral upacara pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Di tengah suasana duka dan mobilisasi massa yang luar biasa, seorang penyair tampil di hadapan ribuan pelayat, melontarkan sindiran pedas yang secara langsung menargetkan mantan Presiden AS, Donald Trump, melalui gubahan puisinya. Momen ini bukan hanya sekadar ekspresi seni, melainkan manifestasi kuat dari sentimen anti-Amerika yang telah lama mengakar dalam narasi revolusioner Iran, yang kembali digaungkan dengan teriakan massa “Matilah Amerika!”.
Peristiwa semacam ini, meski berakar pada konteks duka cita, secara inheren berubah menjadi panggung politik yang strategis. Di Iran, upacara pemakaman figur-figur penting, terutama seorang Pemimpin Tertinggi, selalu diwarnai oleh demonstrasi kekuatan, persatuan nasional, dan penegasan ideologi. Kehadiran penyair yang menyampaikan kritik terhadap Washington dan salah satu pemimpin paling kontroversialnya, mencerminkan upaya untuk menggalang dukungan domestik dan menegaskan posisi negara di kancah internasional. Sindiran ini, yang disampaikan dalam format seni yang sangat dihargai dalam budaya Persia, memiliki daya resonansi emosional yang jauh lebih dalam dibandingkan pernyataan politik biasa, membakar semangat revolusioner dan sentimen anti-imperialis di hati para hadirin.
Sejarah Panjang Retorika dan Ketegangan Iran-AS
Sentimen “Matilah Amerika!” bukanlah fenomena baru, melainkan seruan yang telah menjadi ciri khas Revolusi Islam Iran sejak 1979. Slogan ini bukan sekadar luapan emosi sesaat, melainkan cerminan dari serangkaian peristiwa historis yang membentuk persepsi Iran terhadap Amerika Serikat sebagai “Setan Besar” yang campur tangan dalam urusan internalnya. Dari kudeta yang didukung AS pada tahun 1953 terhadap Perdana Menteri Mohammad Mosaddegh hingga dukungan Washington terhadap Irak selama perang Iran-Irak, daftar keluhan Iran terhadap AS sangat panjang dan kompleks.
Dalam konteks yang lebih baru, hubungan Iran-AS semakin memburuk drastis di bawah pemerintahan Donald Trump. Keputusan Trump untuk menarik diri dari Kesepakatan Nuklir Iran (Joint Comprehensive Plan of Action/JCPOA) pada tahun 2018 dan menerapkan kembali sanksi ekonomi yang melumpuhkan, memicu kemarahan besar di Teheran. Kebijakan “tekanan maksimum” Trump tidak hanya mencekik ekonomi Iran tetapi juga meningkatkan ketegangan militer di kawasan, termasuk insiden penargetan kapal tanker di Selat Hormuz dan, yang paling signifikan, pembunuhan Jenderal Qassem Soleimani pada awal 2020. Kejadian-kejadian ini memperkuat narasi Iran tentang AS sebagai musuh bebuyutan yang berusaha merusak kedaulatan dan stabilitas negara tersebut.
Dalam beberapa tahun terakhir, Iran juga telah berulang kali menyuarakan kekecewaan terhadap:
* Sanksi Ekonomi: Pembatasan akses ke pasar global dan sistem keuangan internasional yang berdampak langsung pada kehidupan rakyat Iran.
* Intervensi Regional: Dukungan AS terhadap rival Iran di Timur Tengah, memperpanjang konflik proksi dan ketidakstabilan.
* Ancaman Militer: Kehadiran militer AS yang signifikan di Teluk Persia, yang oleh Iran dianggap sebagai provokasi dan ancaman langsung.
Puisi Sebagai Senjata Politik dan Pengikat Emosional
Peran penyair di Iran jauh melampaui hiburan semata; mereka sering kali berfungsi sebagai suara hati bangsa, pencerita sejarah, dan pengobar semangat revolusi. Puisi memiliki kekuatan untuk menyatukan massa, mengekspresikan kesedihan kolektif, dan menyalurkan kemarahan politik dengan cara yang sangat mendalam dan artistik. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika seorang penyair dipilih untuk menyampaikan pesan politik kritis di upacara pemakaman seorang Pemimpin Tertinggi.
Puisi yang menyindir Donald Trump kemungkinan besar menyoroti kebijakan-kebijakannya yang dinilai agresif dan merugikan Iran, mungkin dengan perumpamaan metaforis yang kaya akan simbolisme budaya Persia. Tujuannya adalah untuk membangkitkan rasa keadilan, solidaritas, dan perlawanan di kalangan pelayat, sekaligus mengirimkan pesan yang jelas kepada dunia internasional bahwa Iran tidak akan gentar menghadapi tekanan eksternal. Sindiran ini juga berfungsi untuk mengkonsolidasi basis pendukung domestik rezim, menegaskan identitas revolusioner, dan memperkuat narasi perlawanan terhadap hegemoni Barat. Ini merupakan kelanjutan dari penggunaan seni sebagai alat propaganda dan mobilisasi yang telah berlangsung selama berabad-abad di Persia.
Implikasi Retorika Anti-AS terhadap Hubungan Internasional
Insiden semacam ini memiliki implikasi yang signifikan terhadap dinamika hubungan Iran dengan negara-negara lain, khususnya Amerika Serikat. Meskipun terjadi di tengah suasana domestik, pesan yang disampaikan adalah untuk konsumsi global. Bagi AS dan sekutunya, ini adalah pengingat bahwa sentimen anti-Amerika di Iran tetap kuat dan menjadi bagian integral dari identitas politik negara tersebut. Hal ini dapat mempersulit upaya diplomatik di masa depan, terutama terkait dengan negosiasi program nuklir Iran atau upaya de-eskalasi di kawasan.
Sementara itu, bagi negara-negara yang memiliki hubungan tegang dengan AS, seperti Rusia atau Tiongkok, retorika semacam ini dapat dilihat sebagai penegasan posisi Iran sebagai kekuatan anti-hegemoni. Namun, bagi sebagian besar negara lain, terutama di Eropa, ini mungkin hanya memperdalam kekhawatiran tentang potensi instabilitas regional. Peristiwa di Teheran ini menggarisbawahi bahwa jalan menuju normalisasi hubungan antara Iran dan AS masih sangat panjang dan penuh tantangan, mengingat luka sejarah dan perbedaan ideologis yang mendalam. Seperti yang telah sering kita laporkan sebelumnya, setiap gejolak, dari sanksi baru hingga insiden maritim, selalu memperkuat polarisasi ini, menjadikan momen pemakaman ini sebagai salah satu babak dalam saga ketegangan tak berkesudahan. [Sumber Tambahan: Reuters – Timeline Tensions US-Iran]