Jutaan pelayat memadati jalanan Teheran untuk prosesi pemakaman Ayatollah Ruhollah Khomeini pada 4 Juni 1989, menandai salah satu acara duka terbesar dalam sejarah. (Foto: bbc.com)
Jutaan Pelayat Banjiri Teheran di Pemakaman Ruhollah Khomeini, Menandai Babak Baru Sejarah Iran
Lebih dari tiga dekade lalu, ibu kota Iran, Teheran, menjadi saksi bisu dari sebuah peristiwa yang tercatat dalam sejarah sebagai salah satu pemakaman terbesar di dunia. Pada awal Juni 1989, jutaan warga Iran membanjiri jalanan kota untuk mengantar jenazah Ayatollah Ruhollah Khomeini, Pendiri dan Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, ke tempat peristirahatan terakhirnya. Peristiwa monumental ini, yang sering disebut sebagai “pemakaman abad ini,” bukan sekadar prosesi duka, melainkan sebuah manifestasi kolektif dari kesetiaan dan kesedihan yang mendalam, sekaligus penanda transisi krusial bagi masa depan negara tersebut. Khomeini wafat pada 3 Juni 1989, dan pemakamannya berlangsung keesokan harinya, 4 Juni 1989, di tengah lautan manusia yang emosional dan penuh gejolak.
Perlu ditekankan bahwa peristiwa ini terkait dengan wafatnya Ayatollah Ruhollah Khomeini, bukan Ali Khamenei, yang saat ini masih menjabat sebagai Pemimpin Tertinggi Iran. Informasi mengenai ‘terbunuhnya’ dan ‘pemakaman’ Ali Khamenei adalah tidak akurat. Ali Khamenei justru terpilih sebagai pengganti Khomeini setelah wafatnya sang Imam, melanjutkan kepemimpinan Revolusi Islam yang telah berdiri sejak 1979.
Skala Pemakaman yang Belum Tertandingi
Jumlah pelayat yang hadir diperkirakan mencapai 10 hingga 17 juta orang, mengubah jalanan Teheran menjadi sungai manusia yang tak berujung. Angka ini luar biasa, mengingat populasi Iran saat itu sekitar 50 juta jiwa. Orang-orang datang dari seluruh penjuru Iran, bahkan beberapa berjalan kaki berhari-hari, untuk memberikan penghormatan terakhir kepada sosok yang mereka anggap sebagai pemimpin spiritual dan politik.
Beberapa poin penting terkait skala pemakaman:
- Lautan Manusia: Jalanan dan lapangan utama di Teheran dipenuhi hingga meluber, menyebabkan kemacetan total dan tantangan logistik yang masif.
- Emosi yang Meluap: Banyak pelayat menunjukkan kesedihan ekstrem, pingsan, bahkan melakukan tindakan simbolis seperti mencabik-cabik pakaian sebagai tanda duka cita.
- Tantangan Keamanan: Tingginya jumlah massa menyebabkan kekacauan di beberapa titik, termasuk insiden perebutan kain kafan jenazah Khomeini yang membuat peti mati harus diangkat kembali dan diterbangkan menggunakan helikopter.
- Liputan Internasional: Media dunia secara luas meliput peristiwa ini, menyoroti kekuatan dan jangkauan pengaruh Khomeini bahkan setelah kematiannya.
Warisan dan Dampak Revolusi Islam
Ayatollah Ruhollah Khomeini adalah arsitek utama Revolusi Islam Iran tahun 1979 yang menggulingkan monarki Shah Mohammad Reza Pahlavi dan mendirikan Republik Islam. Warisannya mencakup ideologi Vilayat-e Faqih (Pemerintahan Ulama), yang menempatkan pemimpin agama di puncak struktur kekuasaan negara. Kematiannya, satu dekade setelah revolusi, membuka pertanyaan besar tentang masa depan Iran dan arah revolusi.
Warisan Khomeini memiliki dampak yang mendalam, tidak hanya di Iran tetapi juga di seluruh dunia Islam dan geopolitik global. Kebijakan anti-Barat, dukungan terhadap gerakan-gerakan perlawanan di kawasan, serta penekanannya pada kemandirian nasional telah membentuk identitas Iran modern. Pemakaman massal tersebut adalah bukti betapa dalam pengaruhnya telah mengakar dalam sanubari rakyat Iran.
Transisi Kepemimpinan dan Masa Depan Iran
Kematian Khomeini memicu proses suksesi yang cepat dan kompleks. Majelis Ahli (Assembly of Experts) segera bersidang dan memilih Sayyid Ali Khamenei, yang saat itu menjabat sebagai Presiden Iran, sebagai Pemimpin Tertinggi yang baru. Pemilihan ini, meskipun cepat, menandai titik balik penting. Khamenei mewarisi kepemimpinan di tengah berbagai tantangan internal dan eksternal, termasuk dampak perang Iran-Irak yang baru saja berakhir, serta tekanan ekonomi dan politik internasional.
Peran Ali Khamenei dalam melanjutkan dan mengamankan prinsip-prinsip Revolusi Islam setelah wafatnya Khomeini menjadi krusial. Transisi kepemimpinan ini tidak hanya menunjukkan stabilitas institusi Republik Islam tetapi juga kemampuan sistem untuk beradaptasi dan terus berjalan, meski kehilangan figur sentralnya. Pemakaman akbar Khomeini bukan hanya akhir dari sebuah era, tetapi juga awal dari babak baru dalam sejarah Iran yang terus bergulir hingga hari ini. Mengenang peristiwa ini memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang fondasi politik dan spiritual Iran modern, serta kekuatan dukungan rakyat yang membentuknya.